Kamis, 18 September 2008

all poems

sisa senja
Sajak wimbaprana

ada yang tersisa dari senja yang
tak pernah menyapa
kilau cahya di buram kaca
juga langit yang begitu sombong

ada yang tersisa dari senja yang
tak pernah menyapa
pecahan hati campur pasir
serta luka beribu luka

ada yang tersisa dari senja yang
tak pernah menyapa
kerinduan pelukan malam
dan pelukan bidadari bulan

TAGADAP
Sajak Fredy Purnomo

Dengarlah lecut kaki kuda berkecak-kecak di udara
Bergaung dengan irama kabut pagi
Tagadap, tagadap
Langkah itu semakin cepat, cepat
Semakin pula lirih terdengar, menjauh

Merdunya terdekap diantara kericik air
Tagadap
Berderap kembali semakin dekat
Temponya melambat
Dap
Dap
Dap
Sebentar kutercekat
Dengar ia meringkik pelan
Seakan bisik kata pada siapa
Aku tak tahu makna, terpana
Ia meringkik sekeras getar cuping
Menghentak jemari, menghentak jantung
Angkat kaki atas kaki, terangkat
Melari melesat jauh
Bergaung bunyi
Tagadap, tagadap
Dengusannya masih kedengaran lirih
Pada nafasnya kedengaran rintih

Jepon

VERSUS
Sajak estesia nugroho

Kugenggam engkau lewat gering telepon mengetuk
Malam, melelehkan rindu di nyala lilin
Bersama detak jam yang tanggal kupunguti lagi
Serpihan senyummu dikebat musim lalu
Dan langit-langit kaca meneteskan jarum hujan
Menjelma igauan sebagaimana ciuman pertama yang
Tak lagi kau hayati dalam potret kegamangan
Kita, selalu mengulang pertemuan tanpa kata.


Yogyakarta, 1996-2001

Dewala
Sajak daisy

Wajah bapak yang sepi, ibu yang bosan, adik yang selalu menyeringai.

Mataku terbelalak dalam tidur,
wahai bulan yang sama!!
Aku terseok menyusuri dinding,
aku terus kembali ke tempat yang sama.
Rasaku telentang terpenjara,
wahai langit yang renta!!

Cinta, amarah, iri hati yang letih....

Tak satupun pintu untuk menerobos lari,
wahai dewala!!

~Daisy~
September 1999

Hukum I termodinamika
Sajak Roy Baroes

Kalor berpindah akibat adanya perbedaan temperatur
Begitu juga dengan diriku

Mengalir dari tempat ini
di antara padat gas dan cair
Melayang-layang
menembus batas

Hukum I Termodinamika...
dapat di susun secara matematis
tapi aku tak akan bisa di rumuskan
masih saja melayang-layang
dan sebentar lagi
siap untuk turun kebumi
menememuimu...


bandung, 1 agustus 2001

Lihat juga: Roy Baroes

Titik tripel zat
Sajak Roy Baroes

Semua postulat termodinamika merasuk ke jiwaku
Membakar darah hingga menggelegak
Otak terasa membengkak
dada pun menjadi sesak

Kini aku tanpa bentuk
telah mencapai titik tripel zat
Kalor telah meleburkanku
tak terdefinisi
tak teridentifikasi

Berdiri di titik tripel zat
antara padat, gas dan cair

Lihat juga: Roy baroes

Singkapan
Sajak Ben Abel

KUTANG

dengannya
keyakinan makin mengena
percuma buah dada
menggantung tanpa beha


KAIN-PANJANG

selaput indah
penyanggah badan
serba bisa
bias mata keranjang


KEBAYA

belah dada
kemben delima
singset kata
pajangan mata
kentat tahan nafas semua
kasian siksanya
demi nampak hanya

RANJANG

bale borjois
lautan dengkur
dan bumbu adegan
tujuhbelas tahun diatas


KULIT

tanpa warna
mungkin tidak berguna
lantaran kecantikan
jadi pesona

dan bencong imej manusia
merenda rasialisme dari masa ke masa


HATI

yang selalu dimanipulasi
kekuatan pikir
tanpa zikir
keliaran tak bisa dipungkir
jangan, jangan diplintir
hati jadi pikir


MAAF

kekeliruan yang perlu
awas : Lidah Tipu !

Singkap Rasa
Sajak Ben Abel

MANIS

Ujung lidah terjulur
kekeringan liur
lelehan mani
mengancam cinta


SEDAP

Bersedekap
menghadap
menanggap
dalam gagap
nan gegap
lahap
kau melahap


ENAK

Liur mengacar
aroma semerbak
tak kunjung pancar
bayang-bayang mengantar
kwintas-kwintasi ganjar
menanti bayar

"Jangan mencuri di warung"
sebelum semuanya bubar

[cerita lain dari puber-puber]

Tiga singkap
Sajak Ben Abel

CINTA

buka kamus saja
cetakannya tak pernah luntur
seperti perasaan simpang siur
menetapi tekad mungkin nekad

engkau faham, engkau terima
ternyata bukan kata-kata


RINDU

Semula kita
lalu aku sendirian
mengenangmu
kali kesekian kali


BERAHI

Anugerah yang memalukan
tetapi perlu


[dari perjalanan masa-masa remaja 1970an]

Pohon kelapa mata sapi (Judul mimpi)
Sajak Ben Abel

Terbilang tanah merah
liat kuning memutih
ara diatas tersapu lepah
par lempar banjir tak terkira,
pohon-pohon rebah

tepi sungai tidak lagi merindang
erosi meraja air keruh,
hama mengganyang
nyiur-nyiur sepanjang kertak tak lagi meriang tenang
rumah-rumah yang gubuk sepi penghuni hilang
ayam-ayam kehilangan piara jadi mangsa
kucing-kucing liar berkeliaran seperti gelandangan kota
telur-telur putih tak bermata seperti bola pingpong belaka
sapi-sapi tak berkandang lari mengarung rimba
merumput rumputan yang tak lagi ada dimana-mana
padang sabana menggantung dalam impian

dalam mimpi ini
kutemukan pohon kelapa tak melambai lagi
mata sapi berulat penuh semangat mati
bumi kehilangan hutan sejati

untung air pompa masih ada
mimpi pun tersangkut di tungkai baja
membayang botol-botol tirta
penyambut dahaga
usai mimpi melelah ini raga
5000 saja
botol air dimana-mana

[20 Juni 2001]

Mimpi meditasi
Sajak Ben Abel

Dari mimpi meditasiku
kuterjaga
dari Aceh hingga Papua
semua serukan : MERDEKA
bukan lagi 45
bukan lagi 45

Aceh Merdeka
popor senjata
Papua Merdeka
popor senjata
Indonesia Merdeka
popor senjata

Jakarta punya :
orde baru kembali merdeka
Golkar masih merajalela
popor senjata terangkat semua
marabunta tak bermata terpana
tentara bangkit segera
perwira segala masa
awas gagangnya
satria tak kenal jelata
cara manusia

demokrasi kena polusi
semua nafas terhenti
seperti mimpi meditasi
tunggu apa lagi

[23 Juli 2001]

Tuhan, aku masih di sini
Sajak Kemirau (Malaysia)

telahku lewati denai
cetera suka dan duka
telahku jejakki damai
entah di mana
telahku turuti
hati nan lara

Tuhan, aku masih
di sini

renyah
Sajak Kemirau (Malaysia)

kilat sabung menyabung
hati bagai disabung
awan larat menyembah salam
di langit kelam
badai semalam masih terasa
rapat sembahnya
apalah yang ada
menupang dagu di hujung beranda

aku umpama musafir
kehilangan peta
hilang papan tanda
hampir hilang semuanya

Seksyen 17,
Petaling Jaya.

doa
Sajak Kemirau (Malaysia)

ada sesuatu yang menghambatku
di segenap penjuru dan arah
apa bisa terungkap mungkin
antara mentera dan bicara pendeta
antara garap nan pasrah

berdosakah aku
entah pesona apa melerai gundah


Belimbing Dalam.
28 Nov. 1991

menjejak denai budaya bangsa
Sajak Kemirau (Malaysia)

seakan ada genta rasa
cukup asik lagi menyenangkan
tatkala menyisir pantai zaman
bermandikan gemilang silam
berdiri teguh di dedaunan sejarah
bermain di bibir cendekia dan pendeta
menggugah lena.

sememangnya ini suatu wasilah
pada tangan yang mendakap pasrah
anak-anak warisan berwajah ceria.

bentara membawa berita bencana
“cenderasa paduka raja hilang sudah,
peringgi mencemar bumi melaka,
tulah baginda tidak lagi berbisa!”

bertandulah raja penuh cela
singgahsana dicabuli
kedaulatan disanggah peringgi.
membuntinglah gundah rakyat jelata
namun dalam diam membenteng diri
biarpun istana menjadi kota
biarpun budaya bangsa menjadi citra.

ceterawara merobah hala sejarah
terlantar persada bonda berabad lamanya
terubat lara di dakapan merdeka
beriktikadlah rakyat seluruh negara
menyua harapan dalam ratap dan rawan
membina hijab rentetan duka
mencermin diri.

sepantasnya ramai yang menjadi abid
meminggir diri memagar berahi
moga maruah ini tidak tercela
untuk kedua kalinya.

di parlimen kedengaran khabar gembira
“DEB telahpun dirangka sudah,
hutan belantara kita teroka,
tidak rakyat ditimpa jentaka!”

berhijrahlah rakyat penuh pasrah
hutan dihuni, kota digilai, desa kian sepi
memboyotlah kantung golongan menengah
namun dalam kukuh ekonomi, kian menghakis budi
peduli apa pada istana
biarkan ia menjadi kota
peduli apa pada budaya
biarkan ia menjadi citra.

sekonyongnya terpacul topeng di sana-sini
masing-masing mendabik diri
taksub dengan ideologi
reformasi dipekikkan keadilan diwarwarkan
tapi pergi ke luar negeri melacur diri
jenis bangsa apakah ini?
kaya dengan aspirasi diri
peraga maruah bangsa sendiri!
(aku cukup geli dengan permainan ini!)

Belimbing Dalam.
1995 - 17 Mei 1999

nyanyian damai
Sajak Kemirau (Malaysia)

ingin hatiku menjadi burung
seruling padi musim menuai
lepas bebas membelah lembayung
berlagu merdu nyanyian damai.

duhai angin berpuput sayu
mana berita kekasih hamba
bawakan daku semilir rindu
jauh di mata hati tak lupa.

duhai burung sampaikan pesan
pada ranting pohon nan rimbun
bawakan daku air di pergunungan
biar hilang dahaga setahun.

apa digenang airmata berlinang
duhai hati hamba nan rawan
apa dikenang kasih menghilang
kasih nan lara jua meruntun.

mari ku dengarkan nyanyian asal
dendangan lama turun temurun
pada zapin, inang dan ghazal
kita abadikan biar bertahun.

bersiul burung di tengah laman
berlagu merdu nyanyian damai
berkembang mekar kuntum di taman
menyulam sepi tidak berpantai.

Belimbing Dalam.
9 April 1994

ngiang
Sajak Kemirau (Malaysia)

zaman menelan warna pelangi di ufuk barat
meninggalkan kedukaan penuh sarat
kesan luka penuh rona kian abad.
telahpun berlalu gelak yang gamat
pada tiap dentingan gelas keramat.

hujanpun tak sudi menyapa tak sudi mendakap
buat kembang urat nadi rezeki nan sendat.
alah … siapa yang kian lama menggendong
gemerlap neon dan tari berahi
pada makmurnya negara melimpah-ruah
ke mana digomol wang berjuta.

aha … setelah sekian lama dalam alpa
menyundalkan nasib bangsa
itukah yang bernama pejuang bangsa
kaya slogan dan tipu nista?.

duniapun masih belum kiamat
boleh saja mengepit si genit ke majlis dansa.
esok bilang saja pada rakyat
yang tak pernah mengadu domba
“getah dan bijih pasarannya kian rendah,
kelapa sawit pulau dik Amerika”.

lusa nanti terus melatah
mengomongkan siswazah
momok sini momok sana.
“generasi muda pemilih kerja,
hanya tahu kantungnya saja”.
tapi bagaimana dengan si bapak penoreh getah
sepagi ini ladang disembah
(sedang pak menteri dipeluk bini penuh lena,
setengahnya masih berdengkur di hotel mewah;
persidangan kononnya … si genit mana lelah di sebelah).

tulat menunjuk muka di mimbar media
ahhh … perpaduan matlamat kita!
(entah kali ke berapa ya dipekik slogan yang sama)
macamlah rakyat pekak telinga
tak reti bahasa.

Belimbing Dalam.
1991

kenapa mesti melatah
Sajak Kemirau (Malaysia)

di sini ada kilang bikin manusia
buat melaksana teori dan sejuta mimpi
kita pupuk kita baja ia ikut citarasa
aqli manusiawi, yang nantinya
akan kita petik hasilnya
meski belum pasti berisi.

di sana ada profesor ada pendeta
buat merangka strategi dan merealisasikan teori
mereka cedok mereka cuba ia ikut citarasa
kepompong sendiri, yang nantinya
mereka bisa dianugerahi dan dipuji
meski hasilnya belum tentu menjadi
belum lagi teruji.

di sini meski kita berperi-peri
membentuk generasi terpuji
acuan birokrat impian rakyat
sedang mereka di sana-sini tanjulkan jerat
benamkan periuk api menabur duri
atas nama demokrasi.

di sana-sini ada manusia separuh jadi
setengahnya langsung tak menjadi
kenapa mesti melatah duhai pak menteri
bina saja banyak lagi pusat serenti
dan tembok besi
atas nama demokrasi.

di sana atas nama demokrasi
pak menteri bertikam lidah dengan DAP
yang ternyata buta lagi tuli
sedang minda mereka dalam kocek kami
sesat dalam modal basi.

di sini atas nama demokrasi
anak kita mesra sekali dengan Juwie
dan URTV, lantaran itulah juadah
yang kita sogokkan hari-hari di media TV
tak hairanlah model mereka selalunya penyanyi
kenapa mesti melatah pak menteri.

Oleh;

Kemirau,
Belimbing Dalam.
5 Ogos 1993

Mingguan Malaysia, 19 Disember 1993

refleksi kendiri
Sajak Kemirau (Malaysia)

akulah musafir gelandangan di bumi hanyir
menjejak denai nurani manusiawi nan hilang
penuh alpa dalam ketawa senang
mengejar kerdip bintang berlari bersama siang
adakalanya cukup senang memuji diri
sepantasnya pertimbangan hilang
bersama maruah diri.

inilah aku insan terbuang
asyik menghias diri pesona berahi
sedang tanganku terikat di belakang
ingin ku gagahi lagi hidup ini pesona ini
entah kapan waktunya terhenti
atau sayup-sayup mata memandang
ada utusan mengundang pergi
entah bagaimana nanti rupa diri.

itukah aku yang bernama kecundang
tewas bertarung diri
pada nafas yang tersengkang
mampukah aku mendabik diri
betahkah aku melepas diri?

Oleh;

Kemirau,
Belimbing Dalam.
10 April 1994 - 14 Mei 1999

agenda pura
Sajak Kemirau (Malaysia)

Paradigma apakah yang ditebarkan
ke segenap penjuru benua
sedang gerak dan tutur kata penuh pongah.
Asyik berkancah ria bikin-bikinan
kian mencambah dendam bertahun
bertandu duka sang murba.

Agenda apakah hanyalah pesta penuh gemirang
sebatinya perirana dan tari menari
sebatilah kita satu gengsi segah berahi.
Kitakah pertapa di kangkang ratna
bikin kalut seisi kota dalam kegawatan menular
di setiap kantur, perhentian bas dan teksi.
Kita ini bajingan luka dari perut segala iblis
meratah harum harmoni nikmat merdeka
membenteng dewala konglomerat gengsi
konsortium kita terbina dinasti.

Telah kita palitkan rona gagak
pada wajah ceria anak-anak pewaris bumi.
Telah kita goriskan dinding kota dengan
janji manis bertambun.
Inilah neraka ciptaan kita hiaskan nanah dan noda.
Inilah syurga impian jutaan insan terpesona
pada kepalsuan dan pura.
Manakan terlaksana janji di bibir perjaka
bertukar baju mahupun bohsia apalah bezanya.
Ini kota peduli apa pada seranah dan serakah
bukankah ia suatu darma!

Kita bicara tanpa paramasastera
memang kita kelana berlainan pusta
penegak adicita mahupun cauvinisme!
Kita berpesta di gunung dan segara
di langit berma menyimpan dendam.
Berpatah arangkah kita?
Ahh … usah percaya pada gelenang air mata
ini bumi wangi bijana bisa bermandi darah
memang bukan lagi langkara.
Hartanah kita tinggal selangka
angkara jemala berbeza!
Setia kita longkah bersama lingsir
sedang paradigma kita diganyang histeria
sembari leka beragenda pura!

Belimbing Dalam.
16 - 17 Mei 1994

berhemahkah kita?
Sajak Kemirau (Malaysia)

ada sebuah kisah nun jauh di perbatasan akal
bermula di sebuah jeram tempat sumpah membulat
daerah ini pernah seketika dipuja dalam syaer para pendeta
buat peninggalan zuriat merenung tiap yang tersirat
penuh tersurat seribu rahsia

alkisah datanglah angkatan lubalang setia membuta
meredah rencam melintas jeram
"ini perintah sang buana
apa dicela apa dicerca
kemuncak gunung kita tenggala
di lereng gaung kita pahatkan gapura kota
ini singgahsana belantara cita sang buana
memang ia suatu darma!"

datang musim bersilih ganti
sang murbaku berjuang terus dengan hasrat menyala
daerah ini merah berkaca
seribu warna tanganan merdeka
oleh insan(?) rakus lena dalam gelojak rasa

jantung belantaraku dipenuhi kanser
membuakkan loya pesta-pesta konglomerat kota
punggungnya sumbing di sini-sana
atas nama Tahun Melawat Malaysia
mereka bilang tetamu mesti dihidangkan rusa betina
minda mereka perlu lena di rest house banjaran penyejuk luka
parah pertarungan di kota

mataku berkaca melihat telatah mereka
bertelanjang dalam belantara telanjangan mereka
ini bahana tanpa wacana
ini sumpah tak tertunaikan nazarnya
kelmarin flora dan faunaku meraung pilu
apatahnya habitat mereka disimbah toksid melulu
duhai alangkah bahagianya jika tamadun bangsaku terbina
bukan di atas timbunan jiwa derita penuh teraniaya!


memang kami telah putihkan mata kelukan bicara
lantaran gunanya apa bersidang berjela
tanpa tindakan sewarasnya.

Cameron Highland.
September 1994

ada rindu terpaut di semarang
Sajak Kemirau (Malaysia)

telah kutitipkan rindu ini pada buih-buih pelangi nan indah yang kelak akan kubelai sepi di celah resah memanjang yang nantinya akan kudodoi lenamu di ribaku sepanjang malam dingin bulan penuh dan hati kita bersatu

maka buih-buih pelangi pun terus mencumbui tubuhmu dalam kehangatan nafasku menahan rindu tak tertanggung sepi tak berpenghujung

maka hadirlah kau dalam mimpi-mimpi wangi dengan bunga-bunga kasih yang kita gubah lewat mentari terbenam di ufuk bebayang kita terpalit di kanvas hidup yang sunyi ini entah bagaimana tiba-tiba ianya hilang bagaikan telah dijanjikan yang tampuk rindu itu bisa saja rapuh longlai dari tangkai hatimu yang cukup payah kuselam

atau barangkali kita tak saling tumpah hanya bagai nyanyian musim rindu berkumandang di kakian bukit membelah gunung menembus dinding-dinding peribadi di kamar hati yang usang dan tak semena-mena terus dikenang meski airmata terus berlinang.

Untuk Tikaku
Sajak Edo

Ada kalanya rindu itu hadir tiba-tiba
Melambai-lambai antara pintu hati
Antara kita dan kehidupan

dewa dan anak manusia
Sajak Sieva

semua tak akan bisa seperti dulu
detak jantung yang berdegup kencang di dadaku
aliran darah yang mengalir cepat saat bersamamu
tak akan sama seperti kita yang berlari dalam hujan dari ribuan tentara halangi kita untuk bersama
dapatkah petik mimpi walau sekejap
kuatkah gadamu halau mereka semua
sebab kaki tlah lemah lelah berlari
langit seakan tertawa sinis
seorang dewa mencintai anak manusia
terpaku pada kuasa yang ingin kau lepas tuk gapai tangan ini
tinggalkan sekejap wangi tubuh tak terlupa
pergilah.......
berlarilah lebih kencang daripadaku
tinggalkan aku
mengangkat busur panah membunuh mereka yang menyakitimu
dan nikmati tetes air mata yang jatuh tak tertahan

Tak bisa kuingkari
Sajak Sekar

Tak bisa kupungkiri,
Tak bisa kuingkari,
Tapi itu hampir pasti,
Aku ingin memilikimu,
Aku ingin kasihmu,
Aku ingin bersamamu,
Selalu.

Tak bisa kupungkiri,
Apalagi kuingkari,
Cinta itu ada,
Didada ini,
Menyeruak lembut dan pasti,
Aku ingin mempertahankanmu,
Namun aku tak tahu,
Bagaimana dengan nalurimu,
Bisakah kita abadi,

Walau kau disana dan aku disini,
Aku ingin tetap kau cinta,
Biar orang tak mengerti,
Tapi, aku mau kau lindungi.
Apalagi saat ini.

Jakarta, 28 Juli 2001.

<<<>

Cemburuku
Sajak Sekar

Malam itu tidurku selalu tergoda,
Malam itu tak dapat kuhindari lagi,
Karena naluriku mengatakan,
Kau tiduri dia,
Sementara,
Aku tergoda dan tak bisa terpejam.

Kubayangkan,
Kau menggelutinya dengan penuh berahi,
Kau desahkan nafas mesramu,
Tapi, bukan aku yang berada di sisimu,
Ternyata, aku juga cemburu.

Malam merayap lebih dalam,
Aku menangis dalam tidurku,
Karena naluriku mengatakan,
Kau tiduri dia,
Sementara,
Aku menunggu cintamu di alam maya.


Jakarta, Juli 28, 2001

<<<>

lagu bunga cinta buat dina kristiana
Sajak Kemirau (Malaysia)

mari kunyanyikan lagu bunga cinta di musim kasih tertumpah
biar kulagukan seruling senja nan resah di kakian bukit tepian pantai buat pengubat rindu hati nan lara cintaku pasrah

izinkan aku menyisir rambutmu di lembut sang bayu mengulit sepi di segenap penjuru di setiap arah pantaskah aku menyelimuti tubuhmu dengan sutera cinta kita yang hadir tanpa dipaksa leraikanlah gundahku dina kristiana buat kurebahkan resah di pangkuanmu tatkala rindu membara cintaku berdarah atau biar saja aku berkolek di selat melaka membelah samudera mendapatkanmu di seberang sana meski jalannya berliku denainya berapi penuh duri tak kupeduli atau biar saja resah ini terus terpendamjauh di lubuk hati berkaca sendu tak terkira apa pasti kan ku temu jua dina kristiana akhirnya?

<<<>

Dimuat hari Sabtu, Agustus 25, 2001

simakan batu
Sajak Ben Abel

Kerak
letusan dahak
bakaran meledak
orang lomba mengakak
dirumah mencak-mencak kehabisan lagak

hajat sudah menemu tepi
dari pekarangan, jalan sampai kali
kemunafikan melumur kecantikan hari
hidup cuma di panggung sebagai komedi
dimana ledak iba, cemas, tak bersetuju lagi
kirim kuwir tak menggelitik hati
terjual juga terbeli
tanpa nurani

yang bakal sambut janji kemenangan
dalam lautan bimbang berkepanjangan
simak'an batu simakan
sakti tak berkepala ajian

<<<>

Serdaduku, pembunuhku
Sajak Ben Abel

Derap langkah sepatu
seirama degup nafsu
mata tegas menyatu
darah daging serdadu

Barisanmu, barisanmu
menjeret tontonan gadisku
tegapan dada, otot kerasmu
lagak kaku tegas laku
kirimkan lukisan fasismu
jadi pesona ketarikan gadisku

dan lelaki merindu-rindu
timangan gadis pecandumu
biar di biliknya semua mengaku
dalam bingar kemelut kepala rayu

aih serdaduku
keringatmu sampaikan bau
bau amis bangkai musuh-musuhmu
yang kau bantai dalam tugasmu

aih serdaduku
ototmu baja tak mengira aku
segala ulah komandomu minus kalbu
menang sebagai pekik buta laku

pulang bertugas kau
tiduri gadis-gadisku
dengan bau amis darah kemenanganmu
mengerang dunia dalam pelukmu

serdadu, serdaduku
pahlawan, pembunuhku

<<<>

air matamu
Sajak Y. Thendra B P

kekasih,
apakah ini air mata dewa
yang menangisi kematian
dibunuh dendam peradaban

Yogyakarta, 99

<<<>

SUAMI, ISTRI, DAN SEPHIA
Sajak Enka

I. SUAMI TENTANG ISTRI
Duhai istriku
Betapa lugunya kamu
Tidakkah kau tahu
Hasratku tlah lari dari pangkuanmu

II.SUAMI TENTANG SEPHIA
Duhai kekasihku
Betapa merananya kamu
Meski jiwaku padamu
Kakiku masih terikat satu

III.ISTRI TENTANG SUAMI
Duhai suamiku
Betapa naifnya kamu
Kau pikir bodohnya diriku
Ku tahu kakimu tlah melayang satu

IV.ISTRI TENTANG SEPHIA
Duhai perempuan kemayu
Betapa sombongnya kamu
Meski hasratnya pergi ke dirimu
Ku pertahankan kakinya satu

V.SEPHIA TENTANG SUAMI
Duhai paruh hatiku
Betapa rapuhnya kamu
Tak bisa kah dirimu
Lepas genggamnya dan berlalu

VI.SEPHIA TENTANG ISTRI
Duhai perempuan lugu
Betapa munafiknya dirimu
Tuk apa kau dapat raganya
Tanpa hasrat jiwa bersamamu

5 agustus 01

<<<>

sajak untuk sipengganggu
Sajak Y. Thendra B P

wajahmu selalu mengintaiku
meruang dan mewaktu
dan keluh kesah memberontakan sukmaku dari perjalanan purba
dimana bayanganmu melambai pada jiwaku yang payah

kejujuran menjadi kesulitan
hidup dengan kemunafikan
melahirkan penyiksaan
pada kenyataan

baiklah, awali atau akhiri saja permainan latah ini;
keluarlah ida, wanita perkasa menberengut waktu dengan buah kuldi di dada.
biar kutampar kau dengan cinta

Yogyakarta, 2001

<<<>

melayuku engkau dimana
Sajak Kemirau (Malaysia)

tika malam melebar sayap
melayuku engkau di mana
barangkali masih menyusuri denai hanyir lurah berliku
bersijundai ke lewat pagi
mulut penuh buih whiski

tika fajar menyinsing wajah
melayuku engkau di mana
barangkali masih menyelimuti diri diulit mimpi pesona berahi
hangat dakapan nancy dan lucy
yang nantinya ambil saja mc

tika mentari tegak di dahi
melayuku engkau di mana
barangkali masih di kedai kopi
sembang politik dan saham 4D
sebok bicara hak asasi dan teori ekonomi
sedang gelojak penuh aspirasi diri
membuak loya nelayan dan petani

tika senja di langit berma
melayuku engkau di mana
barangkali masih di padang golf mengukur status diri atau senang sekali berhujah membenar diri

<<<>

di makam jebat
Sajak Sang Murba (Malaysia)


kau tahu jebat
kau tak sendirian
di sini

akan ku amuk
kota melaka
akan ku leburkan
keangkuhan mereka


Sang Murba adalah nama pena bagi Mohd Nasir Mahmud selain daripada Kemirau yang lebih kerap digunakan. Beliau dilahirkan di British Millitary Hospital, Singapore pada 1963. Seterusnya beliau telah kembali ke Melaka bersama keluarga pada 1966 dan dibesarkan di sana. Mula menulis semenjak di sekolah menengah lagi. Berkelulusan B.Sc.(Hons) dalam bidang Matematik dari Universiti Malaya, Dip.Ed.(Hons) dari TITC dan M.Sc. juga dalam bidang Matematik dari Universiti Kebangsaan Malaysia. Begitu meminati sekali bidang penulisan kreatif khususnya puisi dan cerpen. Juga jatuh cinta pada teater dan penulisan rencana dan akademik. Penulisan beliau sering tersiar di majalah seperti Dewan Sastera, Pelita Bahasa, Dewan Budaya, Majalah Nona, Mingguan Wanita, Majalah Jelita, Fokus SPM dan akhbar Mingguan Malaysia. Puisi beliau pernah dimuatkan dalam antologi puisi bersama penulis-penulis Melaka. Kini bertugas sebagai pensyarah Matematik di sebuah Kolej Swasta terkemuka di Melaka mengajar subjek Matematik Pengurusan bagi program Universiti Utara Malaysia.
Beliau kini aktif dalam perundingan Matematik bagi semua peringkat di serata Melaka.

<<<>

di makam kasturi
Sajak Sang Murba (Malaysia)

hiba hatiku kasturi
melihat begini caranya
mereka memartabatkanmu

akan ku amuk
kota melaka
akan ku robohkan
biara pongah ini

<<<>

di makam teja
Sajak Sang Murba (Malaysia)

betapa setia hatimu teja
menghadap mercu ledang

akan ku amuk
kota melaka
akan ku salai peringgi
di Portuguese Settlement

<<<>

di makam mahsuri
Sajak Sang Murba (Malaysia)

luhur hatimu mahsuri
tergenang air mataku
di sini

akan ku amuk
bumi langkawi
akan ku sita
kanun duniawi

<<<>

hanya nyanyian sunyi
Sajak Kemirau (Malaysia)

siapalah yang akan menjenguk sepi ini
bertanya khabar anak-anak di tengah malam dingin
yang menanti siangnya terasa lambat sekali
apa diharap pada tegur dan sapa
yang semua itu telah jadi mahal belaka

kita tak betah lagi bersembang bicara
meskipun melempar senyum
lantaran hidup kini menjadi terlalu keras
hati kini cukup kedeking
setegar hati para priayi

malam panjang dan tangisan anak
cukup memilukan lagi menyayat hati
nyanyian sunyi ini pastinya
lebih mahal lagi dari segala
jenis keangkuhan dan pongah

biarlah anak…
siang pastinya menjelma
dan tangisanmu akan berhenti
saat bermain akan datang juga
meskipun kesedihan ini cukup terasa
tak terungkapkan sendunya!


Oleh;

Kemirau,
24 Mac 2000 Bukit Katil – 31 Mac 2000 Belimbing Dalam.

<<<>

Bila tanpa kata
Sajak Ani Sekarningsih


Ketika memahami
Diam itu yang dahsyat
Karena Hu yang hidup

tanpa bergantung kata

Bukan kata yang basi
Namun dzat dan kodrat terperangkap
jerat lumpur kata
memagut erat pikir yang menempa
bathin rasa menjadi pisau majal

Bila tanpa kata
.............
???!!!!
.....,.......
(....)

huuuummmmm


Sabtu, 11 Agustus 2001

<<<>

Tak boleh
Sajak Ani Sekarningsih


Aku yang tak boleh berdusta
tak boleh dengki
tak boleh melukai hati sesama
tak boleh menggasak milik orang
tak boleh membunuh
tak boleh melacur
tak boleh berbuat nista

tak boleh
tak boleh
tak boleh

Engkau bersembunyi
di balik tabir pentas
tak boleh
.................
tersenyum

Lebak Bulus, 20 Agustus 2001

Lihat juga: Tarot Wayang

<<<>

berikan keharusanmu
Sajak nautica


berikanlah keharusanmu
untuk memelukku dengan sungguh
untuk menahanku tetap di sisimu
untuk memilikiku utuh
untuk mencintaiku selama hidupmu
berikan keharusanmu padaku

<<<>

cabulian de balinesque[warning! contain sexually explicit texts]
Sajak Tan Dj


take I:
sebuah kecupan ringan, sebaris ucap selamat malam
"selamat tidur cabulian kusayang.."*

take II:
o cukuplah sudah kita nikmati percabulan malam ke 10 ini
"oh tida..kkk bubulku chayank, jangaaaan..
mari ganti posisi bubulku chayank...
..sssshh..erang aku dari blakank...
..aaaeeerang mu bilang..
..aaaromabuluromantikacintakita,
enggghhhh...
aaahhh...
aaagh"

take III:
fu#@! U hellish cupido et desirio estupido o humanico!
back stabbing brutus di homo homine "cabulus" mampus
burn and melt, vanish and evaporate
moksa dan..mentiadalah!..lekas!
*[diiringi Sheila on 7, "slamat tidur kekasih gelapku"]

tan dj

<<<>

masih bolehkah aku
Sajak nautica

masih bolehkah aku,
menelfonmu sejenak bertanya kabarmu hari ini
atau melihat kau tersenyum dari kejauhan

masih bolehkah aku,
mengenangmu diam-diam dalam hati tanpa siapapun tahu

masih bolehkah aku,
mencintaimu sama seperti dulu
tak pula meminta apapun darimu

jadi, ......
masih bolehkah aku?

16,18,01,19

<<<>

bicaralah
Sajak nautica

bicaralah,
kata-kata tak kan berarti kematian
jangan membisu seperti batu
kau bukan patung yang terpajang
aku bukanlah sebuah radio
yang mengoceh sepanjang malam
tak perduli kau dengar atau tidak

bicaralah,
tak perlu susun kata terlalu rumit
hidup hanya semakin kau lihat sulit

bicaralah,
jangan siksa radio butut ini dengan hening
tak bernyawa tak tertawa

<<<>

Di Negeri Virtual, Kucari Indonesia On-line Di Search Engine
Sajak Ibnu HS


aku mencatat hari
-hari memerdekakan diri
waktu rantai
-rantai diputuskan
dan suara
-suara diteriakkan
dari mulut-mulut yang
begitu lama diam

maka di hari kemerdekaan
ini aku menulis
sajak cinta
dari bentangan harapan
dan rindu
pada pertiwi bernama
indonesia raya

maka lewat pc
aku menulis e-mail
berisi cinta
pada pertiwi bernama
indonesia raya

e-mail terkirim sudah
. tapi sesaat kemudian
sebuah pesan sampai
di mailbox
; failure delivery!

( katanya maaf, mailbox
ini telah lama penuh
menyimpan caci
maki dan erang luka
para kurcaci. tak tersisa
ruang menampung cinta
yang kau kirimkan!)

o apa sebenarnya
yang terjadi pada
pertiwiku bernama
indonesia raya

aku kirim ke lain
alamat
barangkali masih
ada pesan yang
bisa sampai dengan
selamat sebelum
dijarah oleh
jiwa-jiwa khianat

tapi jawabnya sama
saja

(katanya maaf, alamat
ini tak tercatat di sini
. mungkin telah terkubur
dalam ziarahmu
di masa lalu!)

o apa yang sebenarnya
terjadi pada pertiwiku
bernama indonesia raya

dan aku membuka sebuah
search engine
: beri aku indonesia!

seorang perempuan
secara virtual muncul
di depanku

; akulah pertiwi
indonesia raya yang
kau cari

aku tak percaya pada
igauannya
. indonesia yang
kukenal adalah indonesia
yang elok
dan menarik

tapi perempuan di hadapanku
wajahnya pucat pasi
dengan aurat tersingkap
merata tempat
mungkin semalaman tak tidur
dipaksa melayani mimpi
kota-kota
, jalan raya
, dan berhala

; inilah aku
pertiwi yang kau cari

aku masih tak percaya
ratapannya
meski kulihat matanya
berkaca-kaca
dan
astaga, dua bening
di matanya menjelma
sudah sungai kepedihan
di nadiku
sebelah jadi kapuas
yang resah
sebelah lagi sungai alas
yang mengalirkan luka
serambi mekkah
pun parah

kumatikan segera
pc di depanku
sebelum aku menjadi
semakin tidak waras

(kukira kau pun
akan menjadi tidak
waras jika percaya
pada narasi
yang kutulis pada
hari kemerdekaan
tahun ini)

kuching, 17 08 01
Ibnu HS

<<<>

Merdeka!
Sajak Cunong Nunuk Suraja


Merdeka!
Dengan ini saya menyatakan
kemerdekaan saya dari himpitan pikiran negatif tentang
uang upeti
uang tip
uang untuk Pak Ogah cepek dulu dong
uang jajan bagi pengamen jalanan
juga generasi masa depan
yang terbakar angan-anagn
mimpi
dan harapan

Sekali lagi merdeka!

<<<>

Dan Peluru Menangis
Sajak Rukmi Wisnu Wardani

Sambil kencing ditengah jalan

Mereka berkata

Dari balik celana kami bungkam mulutnya

Kami acungkan senjata

Dan kami tarik picunya

Dor !

Dor..Dor !

Merdeka !!

Rukmi Wisnu,

17 Agustus 2001

<<<>

MERAUP AIR DAHAGA"MU"
Sajak Rahmat Tohir Ashari

Serak kata mengeja "nun walqalam",
menghayati makna seruan Sang Maha Bicara.
Tangan kelemahan berlumur merah,
tak sampai menyelami lautan hikmah-Mu.
Hanya pesisian yang sanggup kugapai,
setapak kaki yang baru kulangkahi.
Asa bergelora menyelimuti hati dan sukma,
mendorong pandangan menatap keagungan.
Tapal batas mata melihat,
terhalang gundukan pasir kealfaan,
dan kebencian.

Mengulangi ejaan dari "alif" sampai "ya'",
menerawang pancaran anugerah-Mu.
Memetik buah peninggalan nenek moyangku,
berdahankan kemungkaran dan kebodohan,
bertangkaikan keangkuhan dan kesombongan,
berakarkan lumut-lumut kehampaan.
Aku menerima sisa-sisa tak berdaya,
Aku menjalani tapak-tapak kemuraman,
Aku menuju padang ilalang.

Ucapan "iqra'" terdengar di upuk telinga,
menghembuskan lantunan gembira,
meriuhkan tantangan setapa,
menghancurkan kalangan durjana.
Aku meraba sinyal kemurahan-Mu,
Aku meraup air dahaga-Mu,
Aku menelan biji-biji kelaparan-Mu.


Kairo, 17 Agustus 2001

<<<>

STATSIUN GAMBIR,SORE
Sajak Sutan Iwan Soekri Munaf

warna sepi merona di antara rel memandang jauh ke lalu lalang orang dan suara melolong ke tengah sepi di antara peluit panjang menidurkan seorang bocah di peron empat.
sesekali gerimis memanggil lelaki. barangkali ada mimpi terhapus dari balik jendela kereta. ya, sore ini perlahan turun menangkap kisah di antara rel dan peluit panjang.
dan warna rindu menghitung gerimis dari baris-baris yang gugur di balik kisah. di sini, sesekali peluit panjang menceritakan kembali tentang rel yang diam dan dingin. di peron empat tidak ada lagi tangis seorang bocah:
warna sepi merona di antara kisah peluit panjang dan kantuk panjang rel dingin.

jakarta nopember 2k

<<<>

DI KOLAM RENANG
Sajak Sutan Iwan Soekri Munaf

gemericik sepi mengalir bersama kayuhan diri merenangi nasib dalam kolam rindu
barangkali tumpah lagi seribu kata mengalir di antara riak kalbu di sini aku merenangi sepi sambil melayari mimpi yang selalu kembali

jakarta, agustus 2k

<<<>

SATU MALAM BERSAMA JUNIARSO RIDWAN DAN KAWAN-KAWAN
Sajak Sutan Iwan Soekri Munaf

malam mengalir menating cahaya lembut bersama udara lembab dan aroma lilin terbakar
di sini dingin mengajak kita bergoyang bersama secangkir kopi dan mengembara perjalanan kata di antara semak rindu tentang bandung
kalau sungai sangsi berjarak di antara kita, agaknya langkah padu di batu sepi semakin membeku dalam kalbu
tidak ada lagi kata di kampung daun yang mekar selain bunga cinta semakin mekar pada dua pasang mata yang merasakan getar yang merindukan hasrat
malam pun menjadi sungai cinta di antara manusia yang memainkan melodi rindu di antara waktu beku
aku ingin kembali menafsirkan langkah yang telah berubah.
sungguh!
aku semakin mendekat
semakin merasakan waktu. semakin merasakan kata-kata membeku
semakin liar

cihideung, kabupaten bandung, 2k

<<<>

INGAT CS
Sajak Sutan Iwan Soekri Munaf

tiba-tiba telegram itu berbicara tentang langkah punah dari dalam sejarah.
tiba-tiba kata-kata itu menebarkan segala bayangan lama yang tersimpan di dalam dada. tiba-tiba saja huruf-huruf itu menjadi perintah sepi yang sudah lama terlupakan. tiba-tiba saja dingin menjebak telegram, mendekap kata-kata dan mengerangkeng huruf-huruf: di sini mata pun keluar dari kelopaknya, membebaskan keterkekangannya dibelenggu huruf-huruf dan kata-kata - penglihatan semu.
tiba-tiba mata ini ingin menuliskan kisah yang diingatnya

jakarta, 2k

<<<>

SAJAK RETAK
Sajak Sutan Iwan Soekri Munaf

ketika riau risau
jakarta tergagau

ragunan-nopember 2k

<<<>

Apa Yang Kau Cari?
Sajak Sutan Iwan Soekri Munaf

Apa yang kau cari?
ke sana ke mari
sementara waktu berjalan dan impian tak pernah sudah. Kita pun
semakin tak berharga di sini, di antara rimba beton

Apa yang kau cari?
waktu semakin dekat juga
sedang kau belum apa-apa. Bagaimana dengan hari
perhitungan itu? Apakah rindu ke sisiNya
tak pernah kembali lagi?

Apa yang kau cari lagi?

Jakarta 22 Januari 2000

<<<>

Kataku
Sajak Sutan Iwan Soekri Munaf

Mayang rambutmu datang mengundang. Bimbang
pun meregang. Waktu
kembali berjalan mengukur diri di antara lambang
dan rindu
Banyak sekali minggu yang lepas dari bulannya
dan bulan ditelan tahun dalam gerai rambutmu
Senyum pun mampir di antara hari, jam, menit dan detikku
Aku ingin menangkap bayang di antara kata-kata
yang meluncur dari lidahmu. Sedang waktu
selalu mencumbu rindu
dan aku datang menyambang gelombang mayang
dari rambutmu. Sedang bimbang kuregang
dari batas rindu yang tak pernah sudah. Barangkali seribu kisah
akan tiba. Kau begitu pasrah
Dalam senyum mampir sebaris mayang rambutmu
yang menyisakan ragu. Padahal aku ingin menjaga tahun
dalam jiwamu dan menikmati minggu-minggu membeku
dari bulan-bulan yang gugur. Dan kata pun
semakin cair pada detik-detikmu
Betul, aku lepaskan dari ranjang sepi ini, kepergianmu…
Mei 2000

<<<>

Di Atas Kereta
Sajak Sutan Iwan Soekri Munaf

Berapa lagi harus kuberi, setelah malam tiba
di luar gelap, dan kau masih menyimpan mimpi?
Malam ini bulan datang dan aku tak pernah bisa mengerti
mengapa waktu berjalan dan kita harus menunggu. Lama
Tak pernah selesai bayangan berlari di luar kaca jendela
dan kita tak pernah mau tahu kapan waktu akan berhenti

Berapa lama lagi aku harus merasakan malam
dan kau masih diam. Kopi sudah dingin dan rokok pun padam
Aku ingin sekali bercerita tentang bintang
tentang kata-kata yang semakin tak bisa kukekang
melaju kencang di atas rel sambil melantunkan irama tualang
di antara waktu yang hilang. Hasrat semakin kuredam

Berapa kali kurasakan malam tanpamu
dan waktu membeku
dalam perjalanan panjang. Terbentang kisah
seribu rindu di setiap kilometer yang terdedah
Barangkali malam akan merekam kalimat demi kalimat
dari hasrat yang melekat.

Januari-Mei 2000

<<<>

Kekasih
Sajak Sutan Iwan Soekri Munaf

1
Kekasih
Aku kabarkan berita. Kalah
Setelah waktu menjadi candu
dan satu-satu jatuh. Pasrah
Sungguh. Langkah kaki tak pernah letih
sedang detik mendesak menit mendorong jam menyibak hari menembus minggu melewati bulan mencapai tahun menggapai abad. Menggelepar-gelepar ditelan warna yang tak pernah kumengerti. Dalam makna kukejar-kejar rindu yang datang dan senantiasa pergi lagi.
Kekasih
adalah jerat mengikat hasrat
dan aku tak bisa mengejar waktu yang melesat. Mataku menatap kedalam malam pekat: Penuh
sayatan demi sayatan. Semua mendekat. Mendekat. Mendekat.
Ya, aku duduk membaca kata-kata yang berjalan di trotoir lengang. Hanya kata-kata menggaung di antara tembok-tembok resah. Hanya kata-kata yang meramu kalimat, menjebak alinea dan menyodok gagasan ke dalam pusaran-pusaran pikiran – Sungguh, Kekasih!
Aku kalah dalam setiap kisah

2
Kekasih,
rindu itu semakin memburu – tak ada kata-kata yang dapat mengisahkan rasa ini – Pikiran pun tersumbat dalam aliran waktu – Sungguh!
Kalau pun malam kuhabiskan untuk menangkap sisa-sisa kenangan, tak ada lagi suasana ramah itu – Aku ingin lagi, malam ini, menguntai waktu melewati dini hari menuju pagi – duduk bersamamu – melupakan kelam bersemak dalam kamar sempitku!
Kekasih,
rindu itu semakin memburu – Tak ada rasa yang dapat memisahkan kita – dalam waktu, pikiran melangkah entah ke mana. Dalam pikiran engkau melangkah ke jantung hati. Ya, aku semakin mendekat. Entah rinru ini mengikat. Hatiku semakin melangkah kepadamu!
Lupakan bayang-bayang. Lupakan sebarang kisah. Lupakan kegelapan. Aku ingin tetap bersamamu. Sungguh!
Kekasih,
tidak ada lagi kata-kata selain untukmu!

3

Kekasih,
hasrat benar membuka pintu. Ramah
aku selalu melangkah ke rumah. Salah
tidak ada lagi dinding
tidak ada lagi jendela tempat memandang. Semua menjadi waktu dan tonggak merinding. Kaki tak pernah singgah ke suara tembang. Dan berbaris menuju kata-kata. Dan tembok perlahan-lahan terkuak. Duka
mengayuh rindu untuk kembali
mencari. Tidak ada lagi rumah. Sepi

Jakarta, Mei-Juni 2000

<<<>

ORANG ORANG YANG BERSIDEKAP*
Sajak Nanang Suryadi


orang orang yang bersidekap menyembahyangi nasibnya sendiri adalah
warna warna yang mengabur tak hitam tak putih tak merah tak jingga
tak kuning tak hijau biru tak nila tak ungu tak coklat tak tentu
warna siapa nasib yang dipulas pada lukisan wajahmu orang yang
menyembahyangi dirinya sendiri memimpi rembulan tersangkut di ujung
senapan letusan tak habis habis di ujung malam mimpimu yang bundar
setopi topi baja selaras laras sepatu tak laras mengertak ngertak di
depan pintu hingga memekak mekak telinga karena bentak dan teriak!

orang orang bersidekap menyembahyangi diri sendiri. sendiri. aku
sendiri.

* memandang lukisan herry dim di:

Lihat juga: http://www.yms.cybersastra.net/project/herrydim3.jpg

<<<>

telaga asih II
Sajak corrie


kan tersadarkah,
begitu pelan kau hapus seluruh luka
disa'at matamu juga memancarkan duka
duka dari sisa-sisa pernikahanmu bulan lalu,
"kenapa bukan kau yang jadi suamiku?" lenguhmu

<<<>

Hangat
Sajak Luh Katrin

aku melihat negerimu
bukan negeri kanak-kanakku
aneh – kurasa
s'perti kukenali sedari dulu

aku melihat negerimu
bukan seperti orang asing di tempat asing

kau yang rela berbagi
kau yang memberi tempat
mengizinkan aku
menyelusuri jalan-jalanmu
yang paling rahasia sekalipun


Kerobokan, 23 Agustus 2001
jam 6:43 malam

(Luh Katrin)

<<<>

telaga asih
Sajak corrie"

sa'at menunggumu di kelokan putaran jam,
kadang ada harap yang tertumbuhkan
sa'at demi sa'at menetes dalam hati
rindu ini seperti terus menari-nari
ah: sunyi
ketika kau tertidur di pelukan sang suami.


kota selingkuh. agustus 2001

<<<>

kisah II
Sajak luh katrin

selama ini, sayang, betahkah kau di bilik jantungku?

pengap, tuan, di bilik jantungmu
aku ingin berjalan sekali-kali
mengaliri buluh darahmu

jangan kau lakukan, sayang, takutlah aku, sayang

takutlah tuan kepada saya
tetaplah tak sayang
sebab aku: yang terlupakan


Kerobokan, 25-8-2001
jam 3:22 pagi

<<<>

kisah I
Sajak luh katrin

entah di mana awal kisahku, tuan, entah
aku tak ingat lagi

coba kau ingat sayang, cobalah!

awal kisahku dalam kehangatan abadi
pecah oleh sinar mata yang buas

buaskah matanya, sayang, mengapa?

buas karena ingin
dan karena memiliki

berhasilkan ia memilikimu, sayang, berhasilkah?

ia mencengkramku sepanjang masa


Kerobokan, 25-8-2001
jam 3:05 pagi

<<<>

kubutuh kisahmu
Sajak luh katrin

ribuan aku
[itu pernah kukatakan]
manakah yang menanggung dosa?

- yang nanggung sih semuanya
kalau cari yang berdosa
dia bersembunyi di balik pintu bilik jantungmu -

kau: aku yang berdosa
keluarlah dari perlindunganmu
tanggalkan takut dan malu
berkisahlah padaku!


Kerobokan, 25-8-2001
hampir jam 3 pagi

<<<>

(tanpa judul)
Sajak kidung senja


sebuah pisau telah bersemayam dalam tubuhku
tapi entah pada bagian yang mana
kerna kadang kurasai
sakit di perutku
pernah di otakku
dan tak jarang di jantungku

"mungkin ia telah beranak"

dan mereka sedang bermainmain dengan tubuhku.

<<<>

Dimuat hari Jumat, Agustus 24, 2001

Pendar redup bintang kecilmu
Sajak Pulung Amoria Kencana

Di langit hatimu sendiri
Di jejak yang sangat engkau kenali
Di tempat yang tak asing lagi...

Pandanglah
Pendar redup bintang kecilmu

Selalu

<<<>

degup dini hari
Sajak Nanang Suryadi


degup terasa pada dada sepi,
dinihari mimpi

o sunyi rindui hati,
mengaca sendiri

<<<>

sonnet irianita (3)
Sajak Seloka Matsnawi


dan doa mengental pada hijau subuh, sebagai embun
tak ada derai yang sampai pada tingkap, hanya bisik
: "hingga sampai engkau pada tuju, hingga
janganlah ragu!"

dan doa menerang pada hari sebagai cahaya
tak ada kelam, hanya lindap menyapa:
: "hingga ke tepi, hingga
sampai ke segala mimpi"

o, lambai siapa lambai
jejemari lambai ke silam silam
menuju tuju arah jangan ragu

o, lambai siapa lambai
jejemari lambai ke kelam kelam
di jalan setapak berbatu tanpa ragu

<<<>

Sonnet Irianita (2)
Sajak Seloka Matsnawi


Pada hari-hari yang lebam
Badai sampai ke pantai-pantai
Menghembus suar api tinggal padam
Tak henti membadaibadai

O siapa yang nyanyikan parau
Gelisah orang sunyi
Membilang igau
Memimpi mimpi

Katamu: tatapkan mata tuju
Hingga sampai
Kayuhmu

Hingga sampai
Hingga sampai
Hingga sampai

<<<>

ingin kusimpan kata-kata
Sajak Tulus Wijanarko


seperti gericik sungai memuara
unggas-unggas mengeja takdir
untuk setiap senja yang ditinggalkan surya

ingin kusimpan saja kata-kata dalam tabung kaca
bersama para penyair dan gelandangan wahyu,
lalu kita sambut keringat yang menetes ke bumi
bersama senyum si budi di terik hari.

<<<>

surat dari maut
Sajak Jibsail


tidur sayang
ini malam milik kita saja
beri nama itu dendam
beri nama itu cinta
bayar ragu dengan sejumput garam
bayar mimpi dengan segelas gula
agar tidur kita kembali.

<<<>

angkasa satu waktu
Sajak Jibsail


angkasa satu waktu menghujaniku dengan cermin
kaca pecah perih terbakar
luka diri berdiam sepi

angkasa satu waktu menghujamiku dengan darah
selekuk ombang melengkung menggulung angin
pasir menebar batas tak bertemu

perempuanku sendiri ditangan berdiam kata luka
kelelakianku menepi menyeret ketakutan mata

pada jurang geletar kanak
dibibir angkasa puisi terbakar

mimpi sendiri airmata pergi
dan .............

<<<>

DI MANA CERLANG, O, DI MANA
Sajak Indah IP

buka tumpuk koran berdebu. sudah kau baca berita utama ?
berminggu lalu sependar hilang dicuri. dan mentari, angin, bulan, tak
kunjung akui.
sesungguhnya derak ranting sempat berbisik:
tak kan temu dituju.karena jauh di selimut bumi, sang pencuri, tlah
jelma badai.

cerlang birumu pudar di peluknya.
demikian sisa, kau nanti jua?

indah ip
23 agustus 01
23.40 pm

<<<>

Cerlang Bintang Cintaku
Sajak Nanang Suryadi

Di sudut langit mana bintangku
Cahayanya biru

Kunanti hingga dinihari

Kau tahu
Di mana cerlang bintangku

Cintaku

<<<>

satu kesesakkan-
Sajak Mawar Merah

telah kulepas kesesakan dada dari tanda yang semakin
tua. dan kutulis kekenangan pada tetes embun yang
layu. semua coret dan goret adalah sendu kegalauanmu.
a, aku coba terbang ke rentang bintang-bintang fajar.
a, serupa cermin melukis senyum menujuku. a, masih kau
kah dinda mengharap kebebasan rasa?. beriburibu kamu
masih disitu beriburibu kamu. pada tanda kelepasan
sesakku. tak bisakah kau tak menuju tak bisakah tak.
dan dia?, a.

: a, sesak aku sesak. pada buih kesunyianku sendiri.
a!


-mawar merah-

<<<>

memberi arti
Sajak Kidyoti


arti datang pergi di keheningan pagi dan kelarutan malam
di keindahan sore dan terik tengah hari
di jantung kota dan desa-desa

makna singgah di belahan benak kiri dan kanan begitu saja
menghunjam ingatan manis dan pahit dalam kehidupan
di sumur memori

siapa kau yang datang tanpa permisi
dan pergi tanpa ijin ?

aku bebas bertanya dan bebas pula menjawab sendiri
pertanyaan klasik tanpa akhir jawaban
lesehan logika dan emosi ditikari tubuh yang fana ini

kehidupan kali ini
bersayap kaki dan tangan menggapai makna

turun ke bumi
bermuara mati
dan hidup kembali
membawa makna dan arti
bersandiwara di tanah properti bumi
atau hening membawa sunyi yang berarti

siapa atau apa aku sebenarnya ini?
tiada jawaban pasti
hanya usaha memberi makna yang berarti
itu yang pasti kali ini!

---------
Kidyoti 24-08-2001,06.55 wib

<<<>

TAK KUPAHAMI KATA-KATA
Sajak Tulus Wijanarko

oh, seperti kau sodorkan kiswah hitam ke mataku
kau cabut kaki langit dari keranjangku

kata-katamu hanya menempel di kaca mobil,
ketika si budi mengacungkan koran di luar jendela,

berkatalah, berkata sajalah, berkata-kata sajalah,
dan biarkan aku bersetubuh dengan keringatku sendiri


*tulus wijanarko

<<<>

Engkau Kemana Saja?
Sajak Sutan Iwan Soekri Munaf

Toet-toet ini bicara lewat jemari yang menari. Adakah engkau dengar suara yang menghampar dari byte-byte yang meluncur dari medan elektromagnetik dan hinggap ke matamu?
Ya, jemari ini bercerita tentang bayang-bayang dan seribu serigala yang berlomba di padang gembala mengejar sapi-sapi, mengejar biri-biri dan engkau terlentang pasrah di ranjang rindu. Tak ada lagi dengus yang menghambur dan mata nanar mencari-cari pesan yang engkau tinggalkan pada kotakku. Suara yang hilang itu mendekati. Siapa lagi di antara padang gembala yang akan menyantap rumput muda sebelum mentari berangkat meninggi?
Ya, aku mencari-cari kabar dan engkau kemana saja?

ragunan, jakarta, agustus 2001

<<<>

NENEK DAN CUCU DI MALAM ITU
Sajak novinurnia

Nenek dan cucu di malam itu,
menuju lelap bersenandung sendu,
Nenek dan cucu di malam itu,
lupakan lelah tersenyum palsu.

Sementara ibu tubuh diadu,
lelaki berganti selalu,
Sedangkan ayah berlalu,
tak tahu malu dan tak mau tahu,

Nenek dan cucu di malam itu,
doakan ibu kuat selalu,
Nenek dan cucu di malam itu,
nyenyakkan tidur impian semu.

<<<>

Gula Kapas
Sajak Pulung Amoria Kencana

Mmm…
Melesap dan lenyap sekali sesap
Tinggal merah muda lekat pekat pada lidah
Butir gula pasir
Ah, manis yang tertinggal…

Diantara decapan-decapan terakhir
Mimpi kanak-kanak

Mmm…
Berayun melenting tinggi menjejak-jejak
Ah, manis yang tertinggal…
Lagu kanak-kanak
Suara kanak-kanak
Mata kecil itu

Matahari…

kinderland, 230801

<<<>

Romantisme Lebam
Sajak Sihar Ramses Sakti

sebutlah saya bunga renta. dan angin telah bercerita
tentang padang yang hambar but bunga redup tak berwarna.
tapi padang senja pun sungguh tetap lukisan yang terindah.
dari sana mengalun notasi-notasi diam.
dari sana, ada alur kerinduan yang tak tertangkap telinga
namun mampu merobek-robek jiwa

Gayungsari-Surabaya, 1997

<<<>

SAJAK NELAYAN
Sajak Sihar Ramses Sakti

lalu dia mengumpulkan duka-dukanya di tengah pantai
ada airmata, kenangan dan rautan tiang kapal.
menatapi laut, dia tak sudi bercerita pada matahari
sebab senjanya telah memuai. dan camar kerap mengibarkan sayap
menyisakan hati yang terkoyak oleh jaring jala setiap malam.

nelayan tua bertembang. seperti camar yang dirindukan
selalu tersesat dibawa angin. cuma langit hitam;
kawan yang lain tak akan mungkin lagi bisa pulang...

Tanjung Perak-Sby, 1993

<<<>

DARI SAYA UNTUK MAMA
Sajak Sihar Ramses Sakti

mama yang penuh cinta, telah lama berteman bulan dan matahari
menikam musim dengan keabadian, dari doa yang berkilau tajam

mama yang menanti cerita, semakin terjaga di kamar waktu
terus menyinari cinta di lekuk detak, jadi matahari kedua di atas permukaan bumi

mama yang membelai hari, selalu setia menunggu kabar
tentang anak-anaknya yang terus berlari dan berebutan
untuk minum da mereguk isi cairan sang cakrawala.

Di rantau Surabaya, 1995

<<<>

NOSTALGIA DANAU TOBA*
Sajak Sihar Ramses Sakti

: buat tanah
rindu dendam

bukankah aku
yang meliuk-liuk
dalam matamu?
saat suara-suara kecapi
dan tari tor-tor
tenggelam dalam telapak-telapakmu
saat tubuhku menyatu
dengan buih segara dan cahaya
melesat ke daratan tanah samosir

mungkin kau sudah lupa
pada si perindu yang mabuk cinta.

Surabaya, Juni 1995
* dimuat dalam antologi puisi KSTD (komunitas seni tanah depok)

<<<>

PIRAMIDA KORBAN MANUSIA*
Sajak Sihar Ramses Sakti

: buat kawan teater gapus, sby

dan kita gemar bercanda di hadapan api.
menumpuk tulang belulang dalam untaian selaput jala laba-laba.
menjadi sebuah piramida yang manis di tepian malam
yang berdarah. seraya mendesahkan erangan kecil,
merangkaki celah-celah dengan bernafsu.

kita suka membara di malam selarut ini.

tenggelam dalam piramida yang mengurung siluet potongan tubuh manusia. rangkaian jala akan selalu bersaksi tentang tragedi pucat dan suram. tentang anak adam yang terus mencari ujung, tempat dimana seribu keputusasaan telah pantas untuk disemayamkan.

di sini, kita selalu berangkul erat
siap dijemput oleh kematian yang menyebutkan nama.

Surabaya, 1996

<<<>

AWAN DAN PEJALAN KAKI
Sajak Sihar Ramses Sakti

mungkin lebih baik segerombol awan hitam yang tidak mampu merumuskan mimpi-mimpi mereka bersama angin.
tetapi dari rahim tua akan lahir hujan penuntas dahaga para pejalan kaki.
pada waktu dan harapan.

dan mereka akan menuai, buah-buah kerinduan
dari telapak kakinya sendiri.

<<<>

EPILOG KEMARAU MALAM
Sajak Sihar Ramses Sakti

pada kemarau malam yang kurasa dalam romanmu
telah bersekutu dengan derita dan mimpi angin
satu persatu batang, daun dan dahanmu
akhirnya jatuh di tubuhku.
terkulai kering disertai doa-doa yang panjang.

dengan renungan kuucapkan:
"waktu tak mungkin mau bercerita
kurasa sudah perlu disemayamkan hari ini."

Surabaya, 27-6-1995

<<<>

DARI PITA ZAMAN
Sajak Sihar Ramses Sakti

setetes air mendarat di jalan raya
mewakili sajak-sajak yang terpantul
dari pita zaman yang makin tua
sementara mobil-mobil terus melintas
kereta-kereta semakin menjerit
jarum-jarum jam berputar ke belakang

berita pagi ini, berton-ton nuklir hinggap di etalase waktu
menyeret matahari, rembulan dan tumpukan galaksi

dan aku mati terbunuh dalam puisi,
kata-kata sendiri telah berubah menjadi belati.

Surabaya, 18-9-95

<<<>

DI UJUNG KEMATIAN TAHUN*
Sajak Sihar Ramses Sakti

musim-musim akan selalu bertamu ke rumah kita
merampasi debu-debu waktu yang tersisa di sebuah potret tua
memutar jarum-jarum jam ke kanan, bersahut dengan dentangan seribu instrumen suka-duka

juga akan berguguran helai-helai anak rambut kita
metamorfosa yang selalu terjadi di perantauan tanah asing
menyisakan jejak kaki pada barisan tonggak nisan berlumut
serombongan nazar akan selalu berusaha mengobrak-abrik cerita-cerita yang terpahat di sana

dan mungkin cuma tersisa:
sebuah weker berkarat
kalender berjamur
potongan cerita-cerita usang

karena barisan tahun akan selalu berusaha menitipkan warisan di ujung-ujung kematiannya.

Surabaya, Desember 1994
* Puisi ini pernah dimuat di Surabaya Post

<<<>

DAN AKU MASIH MEMBACA
Sajak Sihar Ramses Sakti

dan aku masih saja membaca pagi
di antara cinta dan masa lalu
langit adalah rumah kita
di antara pengembaraan seribu musim masih kutiupkan
nafas kesunyian pada cuping telingamu
akulah ahasveros
dan sisiphus
merangkak dipanah cupido dari pelangi senja yang dilemparkan venus di dadaku
adakah manusia di sekelilingku
sementara ruang-ruang mati terdekap sepi
sedang masa lalu adalah pengembaraan seribu musim
masihkah layak dibagikan pada manusia lain
di meja makan perjamuan yang tak ada lagi tamu ddan tuan rumah
kita tak lagi kenal apa-apa

Jakarta, 2001

<<<>

maukah kau menghitung bintang
Sajak anissa trias melati

maukah kau menghitung bintang di langit?
agar genap,
berapa yang hilang?
berapa yang muncul?
setelah itu,
kita tak perlu bertanya
berapa banyak pasir di pantai

<<<>

perlukah kemarau meminta maaf?
Sajak anissa trias melati

kemarau yang terlambat
masih bisa menggugurkan daun daun
masih setengah hijau
melayang
jatuh
dan menjadi kering
bersama tanah

dimanakah bunga yang kemarin masih setengah mekar?
"aku ingin menjadi buah..."
sementara lebah tak juga datang

daun daun yang sekarat
tak sempat meminta maaf pada bunga yang tak sempat mekar

kemarau yang datang terlambat
tak sempat berkata apa apa
pada bunga ataupun pada daun

<<<>

requiem : senja
Sajak anissa trias melati

(in memoriam Deni Utomo)

kau yang pamit ketika aku masih di beranda
dan senja menjalar di bunga bunga dan daun daun
aku tak sempat memberimu oleh oleh
(bahkan tak sempat kuucapkan selamat jalan)
tak sempat juga bertanya kemna engkau pergi?
(mungkin kau juga tidak tahu kemana engkau pergi
bukankah semuanya begitu tiba tiba)

ah andai saja warna senja itu abadi
akan kupetik setangkai daun atau bunga
setidaknya da yang mengingatkanmu padaku

<<<>

SAJAK LAUT
Sajak Sihar Ramses Sakti

kau buat laut dari airmata
ku campur lautmu dengan tetesan-tetesan darah

: tapi mengapa tak kunjung ada camar yang melintasinya?

Surabaya, 6-11-1995

<<<>

DUA PULUH LIMA JAM
Sajak Abror Yudhi Prabowo

dua puluh lima jam kutunggu jerit peluit stasiun. orang lalu-lalang
menggoreskan resah yang lain. berita telegram menjelma penantian :
esok aku pulang. lengket kursi ruang tunggu, sepintas kuingat bau kolonyet dilehermu
tapi kenapa parfum murah pelacur itu lebih menikamku -
menyeret sepanjang rel berbatu dengan deretan gerbong dingin dan bisu
(seperti sampah dipeluk rumput aku terkapar didepan pintu)
seorang pencopet tengah khusuk menghitung laba dalam toilet. pengamen bergerombol menyanyikan bulan kehilangan perawan diujung pintu keluar. jembatan layang diseberang, sekilas raksasa berdiri mengangkang. ah -

satu kereta telah mendengkur dijalur empat. lelaki penjaga berjalan sendirian. dibawah neon bayang dirinya memanjang seperti usia ; rapuh dan tua. lalu detak jam diatas gerbang terus memberi tanda : waktu sudah terlampau purba

jogjakarta, 2001

<<<>

Nona Guru dan dunianya
Sajak Pulung Amoria Kencana

Jadi kau jatuh cinta pada ompong ompol dan ingus
mereka

Dan tangis menangis pagi hari mengalunkan semarak
konser pagimu?

Jadi kau jatuh cinta pada mereka yang memanggilmu ibu
empat jam dalam sehari…

Dan isakmu diam-diam setiap Juli

Dan senyummu kala
“Dika sudah bisa bilang R!”


my world, 230801

<<<>

chairil anwar
Sajak Saut Situmorang

bertahun aku mencarimu di luka aspal jalanan, chairil
tapi malam berwangi mimpi terlecut debu
menyembunyikanmu dari belati tajam kata kata sajakku

denpasar, 20 agustus 2001
01: 05 am
saut situmorang

<<<>

easy rider
Sajak Saut Situmorang


-ode buat kota Medan


nyanyian sepeda motor di jalanan
mengingatkanku padamu Medan

airmata dan asap knalpot
menemani mencumbui panas dingin debu aspal
di mulus kulit tikungan jalan
birahi mesin menggelegak membakar
asap ganja dan parfum alkohol murahan
jadi roti dan anggur pembebasan

kucintai kau sepenuh hati
kota bernama sederhana berjiwa sederhana
antara warung kopi dan penjara
hidup kita tertulis di tembok tembok muram warna

nyanyian sepeda motor di jalanan
mengingatkanku padamu Medan
kisah cinta remaja
sedetik tercabik tapi begitu indah

denpasar, 20 agustus 2001
01:00 am
saut situmorang

<<<>

Jeda
Sajak siska widyawati

Biarlah aku menjadi angin
Dan kau menjadi angin
yang tak berjejak
menjadi prahara dalam lambung beliung udara yang merangkaki derap waktu ribuan detik lagi
di padang gersang,
di tarikan nafas,
hempasan tubuh-tubuh,
mati dan hidup
bergantian

<<<>

Cinta Tak Pernah Cemas
Sajak Dino F Umahuk

Kepada Saut Situmorang

Jangan cemas dengan cintamu
Aku sungguh berdiri di batas yang sangat rapat
Ketika kau jentikkan jemari cintamu
Sungguh kuraba itu dengan bara di hati

Dan cicak bercumbu di dinding kamar
Di lebarnya ranjang
Kutunggu dirimu dengan birahi

Dino F Umahuk

<<<>

Pasti Berlabuh
Sajak Dino F. Umahuk


*kepada Indah IP

Api itu jangan padam, Kupinta

Badai takkan mampu merombak getar yang memaknai hati kecilku.
Jangan surut,
Ini jalan masih panjang
Meski udara keruh dan langit runtuh
Di cintamu
Kapalku pasti berlabuh

Dino F. Umahuk

------------
Panulis adalah Jurnalis pada Kantor Berita Radio Voice of Human Rights. Pernah bekerja sebagai jurnalis di Koran Lokal Ambon Ekspres, Tabloid Patriot, Kabaresi. Beberapa LSM Lokal, nasional dan Internasional.
Pernah mengikuti Pekan Seni mahasiswa Nasional II (PERKSIMINAS II) di STSI Denpasar Bali- 1994.
Lahir di Capalulu, 01 Oktober 1974, sebuah Desa terpencil di wilayah Maluku Utara. Menamatkan pendidikan Sarjana Mesin di Universitas Darussalam Ambon

<<<>

Kupas bibit mimpi
Sajak JK

a. garam
kulit dan tulang
tangan diawet laut sore
tawaran rezekik dibawah mukanya
bening
di lekung bibir kering
siapa tahu keringat menawarkan laut
asin ?

b. cinta
hanya elang menatap tajam tubuh kita diatas awan
seperti sayapnya, kuak dan telanjang

c. mata
saya duduk dalam senja
laut pada matahari tercelup
cemar selaut kuning menyilau
mata pada sebuah dunia
kelam

d. layar
karang mengeras adalah mata permata
di atas laut perahu mengantar bibit mimpi

e. malam
perajurit cendera
terobos warna malam
rindu akan terang lampu
serta berusaha sembuyi dari terang
itu


taipei 2001

<<<>

Dimuat hari Kamis, Agustus 23, 2001

MENGAPA BUNGA-BUNGA SELALU MEKAR DAN MENGKHIANATI MUSIM DAN KAU MENATAPNYA PENUH DENDAM ?
Sajak boel

Adalah karena
Kaulawan
Sunyi
Saat seharusnya
Kau memeluknya

Adalah karena
Kau balut luka
Saat seharusnya
Kau biarkan
Ia
Mengering
Pada saatnya
Pada musimnya

Adalah karena
Kau coba tenangkan
Rasa gatal-gatal itu
Saat seharusnya
Kau menggaruknya

<<<>

Tanah Air Kekerasan
Sajak Dino Umahuk

Kita masih saja senang melukis dengan darah
Meski aroma kematian
Menjalar di seantero tanah air kasih sayang
Yang kita gusung bersama
Sejak lebih tiga ratus lima puluh tahun lalu

Kita masih saja senang memotret kemarahan dengan api
Meski air mata meleleh
Di setiap desah nafas tanah air persaudaraan
Yang kita perjuangkan secara bersama-sama
Di bawah tikaman penjajah
Dan perihnya pergumulan hidup

Kita masih saja menabur kebencian
Dan kita pupuk kekerasan dengan subur
Meskipun derita anak negeri sudah tak terpikulkan
Di sekian banyak barak pengungsian yang kita bangun dengan sadar
Untuk tidak dibilang fasis

Kita malah menepuk dada dengan sangat bangga
Jika nyawa seorang anak negeri
Bisa kita hilangkan secara paksa

Dan kita
Masih saja senang menggores kepedihan
Dan luka
Meskipun di rahim Ibu sendiri.


Padepokan Mendut, 25 Agustus 2000

<<<>

anak dara tanah rencong
Sajak Inong Haris

aku adalah anak dara tanah rencong
yang tak mampu berpejam
karena darah para saudaraku mengucur dari mata

tubuh-tubuh kaku
raung tangis pilu
jerit bayi-bayi malang
mencari sang bunda yang entah dibunuh siapa

sungguh, tak sanggup aku berpejam

aku adalah anak dara tanah rencong
bertanya pada Tuhan
apa yang bisa aku berikan

>

Lihat juga: Inong Haris

<<<>

Indonesia
Sajak Saut Situmorang

aku melihat negeriku
negeri kanak kanakku
negeri remajaku
tapi tak kukenali lagi dia

mataku belum tua
mataku belum buta
bukan mataku yang salah!

aku melihat negeriku
yang kubawa ke negeri negeri asing tempatku terbuang
yang kunyanyikan dalam galau perantauan
tapi hanya keperihan yang kusaksikan

aku melihat negeriku
sebagai orang asing di tempat asing

aku tidak melihat negeriku

denpasar, 22 agustus 2001
23:00

saut situmorang

<<<>

Re: Tapi Aku Mencintamu
Sajak Saut Situmorang


aku mencintaiMu dengan kecemasan
Kau tidak akan mencintaiku.
sanggupkah aku terus mencintaiMu
setelah itu?
cicak di dinding kamar lari
sembunyi di balik pintu.

saut situmorang

<<<>

Tapi Aku Mencintamu
Sajak Nanang Suryadi


Tapi aku mencintaimu, dengan kecemasan
Serongga dada yang kosong, sehampa rasa kehilangan

Tapi sanggupkah kau tahu, seperti
Aku yang merindui, dengan hunusan belati, tikam sepi

Cuma, pada galau menyiksa
Kau kira, di mana akhirnya



<<<>

CATATAN PINGGIR
Sajak Sihar Ramses Sakti

engkau tak mengartikan, ketika aku melukis tanda-tanda itu
di tanah beranda rumahmu. sebab goresan kuasku hanyalah kabut,
yang bukan bahasa bagi mata tuan rumah. para pengeja aksara buta.

dan tlatah ini terlanjur melumuri kita, aku muncul dari sejarah
yang rupanya tak pernah kau kenal…

Depok, 1996
-----------


Nama penulis: Sihar Ramses Sakti. Tergabung di Teater Puska, Teater Gapus dan FSLP (Forum Sastra Luar Pagar) di Surabaya. Saat di Teater Gapus, pernah ikut dalam beberapa momen pementasan antara lain Performance Arts berjudul Piramida Korban Manusia dan penyutradaraan naskah drama berjudul Kereta Api Hantu karya Archibald diadaptasi oleh W. Haryanto dan antologi puisi berjudul Upacara Menjadi Tanah. Saat tergabung di Teater Puska juga ikut sebagai salah satu aktor pementasan Stop karya Putu Wijaya, pementasan teater berjudul Ajikubang yang merupakan adaptasi dari karya Caligula karya Albert Camus. Telah menamatkan studinya Fakultas Sastra Universitas Airlangga. Ikut baca puisi di jalanan sejak awal menjadi mahasiswa di Surabaya hingga selesai.
Pria bermarga Simatupang ini sekarang bergabung di dalam (KSTD) Komunitas Seni Tanah Depok yang rencananya akan meluncurkan Antologi Puisi 2001. Komunitas ‘seniman marjinal’ yang ingin mengajak dan memancing ‘seniman marjinal’ lain di Depok agar keluar dari goa-goa nya untuk membuat banyak kantong kesenian di kota ini.
Tulisannya berupa essei, cerpen dan puisi pernah dimuat antara lain di majalah kampus Suara Airlangga Unair, Gatra F. Sastra Unair. Pernah memenangkan Pekan Seni Mahasiswa Regional juara II Jawa Timur tahun 1995 dan ikut dalam antologi Forum Sastra Bulak Sumur tahun 2001.
Untuk media umum, karyanya pernah dimuat di Surabaya Post, Memorandum, Karya Darma (kini tak lagi terbit) dan media di Jakarta, Pos Kota. Setelah menggeluti profesi sebagai jurnalis, mulai mengirimkan karyanya ke berbagai media.
Penulis pernah menjadi wartawan di majalah teknologi Ilmiah Remaja Perintis, majalah Penabur, wartawan tabloid X-file Oposisi Grup Jawa Pos dan saat ini di media massa harian Sinar Harapan.

<<<>

DARI RANTAU WAKTU
Sajak Sihar Ramses Sakti

Seharusnya aku tak mengharap apa-apa
Sebab disini, tak ada cinta untuk percakapan tiga menit di tepi jendela kereta senja. Tapi tidur pun cuma menghasilkan wajah yang berlari di antara jerajak bunyi rel. dan suara akan menjelma lagi dalam lengking peluit pemecah jantung hingga biru lebam. Menua.

Seharusnya aku tak mencintai apa-apa
Tapi wajahmu terus mengundang ribuan senja dari balik stasiun
Stasiun waktu. Menjerit bagai peluit. Menggiring tubuhku untuk berlari. Menuntas duka yang terkapar di jerajak kereta tua.

Itukah kita. Kudapati dirimu bercermin di muka taring malam.
Sementara kereta tak lagi akan membawaku pulang.

Gayungan-Surabaya, 1997

<<<>

REQUIEM: SEPANTUN AIRMATA*
Sajak Sihar Ramses Sakti

lihatlah, hutan rimba kata yang terbakar di ujung bibirku,
tetap ku alamatkan juga sebait cinta ke pintu rumahmu.
walau jadi lebam, bertinta darah, terbenam doa dalam baris
puisi yang tak pernah jadi. Sebab aku tak mampu bertapa di ruang
kesunyian. selalu saja bersolek pada rimba wajah-wajah,
mataku menyilau. Oleh kepedihan yang kau kirim dari atas langit.
"miris sekali warnanya, kapankah kau bagi untukku…"

Depok, 1996
* puisi ini pernah dimuat dalam
antologi Komunitas Seni Tanah Depok (KSTD)

<<<>

DONGENG BUAT N.N*
Sajak Sihar Ramses Sakti

sebuah musim, ada yang bersemi di pelataran jantung kita
setika benih-benih waktu harus berjaga;
masih teringat saat kakiku menapak bangkai kamboja
"kuganti mawar", katamu sembari mengadu ke tahta langit biru.
menanti detak hari yang semakin ranum di kebun almanak kita

sebuah musim, ada yang lahir di pelataran jantung
aku masih saja menghitung hari di atas doa
tercium bau dupa, airmata, pertanda lekas berangkat senja.
terpaku di atas makam yang tersembunyi kemarin malam

tanganmu mematahkan bunga-bunga mawar
terasa darah memerahi halaman yang kubuat di sisi fajar
kabut-kabut pecah, warnanya membusuk rabu
ketika kudapati wajahmu terbingkai waktu
di dalam hati yang hitam, aku menimang-nimang cinta,
menghayati airmata yang terus meleleh pada kedashyatan api;
meletup. Dari sisa jejak masa lalumu…

Surabaya, 1996
* puisi ini pernah dimuat dalam
antologi Komunitas Seni Tanah Depok (KSTD)

<<<>

Dimuat hari Rabu, Agustus 22, 2001

Sajak Seorang Pelarian I
Sajak Dino Umahuk

Kurajut layar dari perahu karam Sayaramual
Walau di laut yang perawan ini
Kasih sayang telah hanyut
Jadi Puisi
Jadi air mata Kapitan Kakiali
Di Pantai Morella

Angin Barat
Angin dari pulau Seram
Angin datang dari Teluk Pattasiwa
Kupakai Buat Berlayar
Berlalu hingga jauh

Perahu berangkat
Dari pucuk pohon pala
Wahai rindu yang semerbak bunga cengkeh
Belahlah laut Banda sekarang juga
Biar moyang-moyang mengutukmu
Dengan kapata

Perahuku menjauh
Mimpiku meranggas
Negeriku bersimbah darah
ajal kembali mengintai
Dari parang anak cucu Pattimura

Katika jenazah terakhir turun
Aku sudah sangat jauh berlayar


Yogyakarta, 30 Juli 2000

<<<>

Sajak Seorang Pelarian II
Sajak Dino Umahuk

Sampaikan salamku
Pada Nusa Ina, Pulau Ibu
Pada tanah Ambon yang menangis
Beta kini sudah jauh berlayar
Biar beta kirim kapata dari Jawa

Dan Anak Istri
Tempat melukis luka hati
Beta bawa jua
Karena maut bisa saja menjemput mereka
Tanpa permisi dan erang kesakitan

Angkara terus membara
Membakar kota jadi air mata
Dan sekian dendam
Masih saja kalian tanam dengan sadar
di dasar hati

Setan cakalele
Merobek-robek keanggunan Pela-Gandong yang nirmala
Langit runtuh
Udara keruh
Darah muncrat bagai air di Salahutu

Dan beta ingin tahu
Siapa
Siapa yang menyuruhmu
Membunuh Pattimura-pattimura muda ?

<<<>

SATU MALAM DALAM DADAKU
Sajak Samsul Bahri

lelah
ketika hujaman waktu tikam nadi

pucat dan lesu
saat semburat jingga perlahan hilang

lalu gelap
kala himpitan telah sesakkan dada

-satu malam dalam dadaku ada nama

21.08.01

<<<>

SEUNTAI CATATAN DALAM CERITA KELAM
Sajak Pay JArot Sujarwo

"17 agustus tahun 45. itulah hari kemerdekaan kita"

langit mendung, menyusul kemudian hujan deras disertai gelegar. gagal memadamkan bara apa dari kampung yang terbakar. jalan raya sesak dengan amis darah dari mayat-mayat tanpa kepala. terkapar dibantai ideologi.

sejuk pagi tak bermakna. setelah peristiwa tembak menembakmenambah daftar sejarah. ledakan. seorang gerliyawan meradang. empat orang berseragam mengerang. mentari tak berhasil mengeringkan jilbab penyeka airmata. ibrahim ternganga, sekolahnya terbakar kemarin malam.

kumandang adzan isa terdengar parau. lonceng gereja kehilangan gema. tombak dan parang tersembul dicelah semak belukar. berlomba menjadi patimura untuk menghabisi saudaranya sendiri. cinta manaf terhadap victoria ikut-ikutan tewas dibantai.

(17 agustus tahun 45. itulah hari...)
akupun memilih untuk terkapar mati sebelum meneruskan lirik berikutnya.

di negri ini. merdeka cuma berhak diteriakkan oleh airmata dan darah yang bebas mengalir kemana mereka suka.

INDONESIA, 17 agustus 2001

<<<>

Aku dan kamu, bercinta lewat sms
Sajak Enka

Sebuah awal:
'Senang mengenalmu'
"aku juga mas"
'Kamu di mana, aku memikirkanmu'
"aku melamunkanmu mas"

Sebuah pertengahan:
'Dalam setiap nafasku tercium wangi tubuhmu'
"Dalam setiap langkahku
terbayang sook dirimu"

Masih pertengahan:
'Birahiku memelukmu tak terbendung lagi'
"Hasratku bertemu denganmu tak
pupus jua"

Hampir akhir:
'Aku menginginkanmu, sangat'
"Aku merindukanmu, sungguh"

Akhir:
'Aku lelah menyentuhmu dalam dunia maya'
"Aku penat menantikanmu dalam
semunya asa"

<<<>

SEMRAWUT
Sajak ENKA

Nglangut di malam berkabut,
carut marut di atas selimut,
cemberut dalam kalut,
kuterhanyut terbawa kemelut,
parut-parut luka tlah berlumut,
asa tercerabut,
mawut,
semrawut.

<<<>

PADA NYATA
Sajak Maya Barmazie


: irj

kah telah tiba musim matang
di ranum dada yang pasang
di atasnya ditunda segala erang?

angin meliuk malam
tingkah bulan yang terlirik di atas jendela
cahayanya membagi cemburu
pada gerak bayang tirai-tirai panjang

kah masih mimpi
atau sudah terjaga?

tak juga tunai gejolak rasa untuk dinda
sebagai anak remaja pertama kali mengukur cinta

maya barmazie, 22 agustus 2001

<<<>

seandainya
Sajak Nana Chang

seandainya kupecahkan bintang
terangnya gemilang
seandainya kutebar keajaiban
sinarnya tak lekang memangsa panjang

dunia lebih brutal,
mengangkang mentari terlecehkan
dunia makin brutal,
insan menikam
manusia menggirang

<<<>

balau kicauku buat Tristian
Sajak Wahyu

sekarang kicauku tambah-tambah merdu balaunya, merajuk kesana-kemari tanpa hal ihwal yang jelas,
rona merahnya si eta yang sedang menulis - ada seorang dara yang sedang bertempur dengan ibunya sendiri, disana di sebelah selatan pulauku, yang banyak kangguru, yang malam harinya tampak kelabu,- diarinya seorang saja, ah...sesekali aku menggodanya bak mahkota bunga yang bergoyang-goyang dicumbui angin,tapi si eta hanya mengeluh bosan, bosan, dan bosan, akankah balau kicauku ini sampai ke alam rindunya?, tak tahulah aku, meranggas sedikit demi sedikit,menggejala di setiap sudut bentukku, terngiang kala malam hari apa saja yang telah ditulisnya si eta, yang sedih, yang lara, yang marah, dan yang juga kecewa, ah...lagi-lagi ah, desahku ingin memanjakan si eta dengan segenap baluran kata-kata, mensibukkan si eta dengan kerlingan-kerlingan jemariku walau terasa asing di si etanya, hey makhluk pujaan, senyumlah barang sedikit, seperti senyumnya sang monalisa, tetapi padaku, hanya padaku saja.

<<<>

memandang gerimis di luar jendela
Sajak Kemirau (Malaysia)

pernahkah kau kawan
memandang gerimis di luar jendela tatkala hati dilanda resah
hajat tak sampai

pernahkah kau kawan
memandang gerimis di luar jendela
tatkala menanti khabar berita
tak kunjung tiba

pernahkah kau kawan
memandang gerimis di luar jendela
tatkala rindu amat berat di dada
mengenang yang tiada

pernahkah kau kawan
memandang gerimis di luar jendela
tatkala mata merah berkaca
tak siapa bertanya

<<<>

Sop
Sajak Pulung Amoria Kencana

Maka bersatulah segala hal dan menjelma jadi satu rasa
yang harmonis

Bagi lidah, otak, perasaan dan perutmu

Maka tak ada lagi merica, garam, gula segala serba
rempah dalam rasa

Maka tak lagi dibicarakan mana wortel, kol, kacang
merah dan kapri dan kentang dan seledri dan daun
bawang dan daging dan ayam dan…

Dan engkau telah menerimanya sebagai sebuah kenyataan…

Dia adalah
sop!

Jkt,070801

<<<>

INGIN
Sajak Kurnia Effendi

Ingin semenit saja menakar kenangan
Tentang Bandung dan sebagian besar riwayat
tempat kita bermula
(Seperti akar yang belajar mengenal humus
dan berangan-angan untuk tumbuh sebagai awal pohon)
Di meja makan itu, selera dan bahasa diciptakan
Dengan telunjuk, kita kembali menggambar peta
Jalan-jalan teduh, daun yang berjatuhan, butir-butir gerimis
Dan irama yang tak pernah lepas dari gema
Antara sepuluh atau sebelas tahun lalu

Ingin bermenit-menit saling memandang
Saling bertanya pada lorong mata yang memanjang
Meski kabar itu tetap terletak di antara
kesibukan kita yang lain. Yang sering mencemaskan
: Mengapa kita bertemu, kemudian saling
menukar rindu? Memperebutkan hari-hari sejarah

Kita akan bersama-sama menunggu
anak-anak tumbuh menjadi besar
Dan menyadari rambut kita berubah warna
Disepuh usia, asam dan garam duka, juga
kelopak-kelopak bunga
Sementara impian satu per satu jadi nyata
atau gugur dilipat waktu
Disimpan oleh arsip cahaya


2000

<<<>

SETELAH SEPULUH TAHUN
Sajak Kurnia Effendi

(1)
Serbuk duka kutitipkan kepada angin pertama
yang berangkat pagi itu. Seperti mengusir
pekat kabut ke arah cuaca yang jauh
Aku ingin terpikat setulus hati
pada hari yang dinanti-nanti
Seratus lagu mungkin berlalu, memahatkan
tanda-tanda nostalgi. Melekatkan
setiap peristiwa dengan caranya sendiri

Setelah sepuluh tahun kita bersama,
masihkah terdapat rahasia di antara kita?
Rahasia sebutir apel yang
tak pernah terkunyah habis
sejak Adam-Hawa memetiknya
Sejak mereka (dan kita) terusir dari taman firdaus

(2)
Serbuk sukacita kutabur di tilam peraduan
Ada pembicaraan perlahan, ada genangan doa
Harum itu, melati yang disunting pertama kali,
menuntut janji untuk ditanam abadi
Pada tanah subur yang dicangkul bertahun-tahun
Untuk mengantar setiap keberangkatan kita
ke arah pandangan mata


2000

<<<>

APPETIZER
Sajak Kurnia Effendi

Dalam hujan ½ jam, percintaan selesai dengan indah
Tanpa intro yang panjang, ditutup dengan bisik yang redam
Seluruh imajinasi berlari demi maksud saling memberi
Saling menerima tanpa banyak tanda tanya
Sesaat kita lupa nama, lupa tempat
Sejumlah rahasia adalah percik perasaan
yang diciptakan untuk melahirkan sensasi
Meski letupan itu kecil saja. Samar saja

Sementara menunggu air mendidih, kemesraan
tumbuh dan mekar dengan gelora yang kaya-raya
Kejujuran antara dua belah jiwa, dan sela-sela ruang
yang sembunyi untuk serbuan cinta lain, semisal:
lanskap di luar jendela, makhluk mungil yang
ditunggu, serta sebuah bayang-bayang masa depan;
menjadi warna yang imajis

Andaikata Asvega melukis semua ini, akan
berhamburan sketsa-sketsa yang lebih basah,
lebih hangat, lebih festival, dan
lebih – barangkali – sakit

Inilah epitaf kenangan, untuk semua
yang mengalirkan inspirasi, dan hendak
dipahatkan sejak dimulainya perjalanan
Di sepanjang Braga, dan pengaruh sihir Februari


2000

<<<>

Malam cinta
Sajak Pulung Amoria Kencana

Bulan bernyanyi
Panggilan dalam angin
Berbisik

Berpesta dalam kegelapan

Daun gemerisik

Degup

Diam bercerita…

Degup

Mata bercerita

Degup

Lupa segala

Degup

dan

Degup

dan

Degup!


Ria, malam 8 agustus 01

<<<>

APAKAH MERDEKA ITU?
Sajak arisel ba (Malaysia)

Apakah merdeka itu
Selalu kucuba menulisnya kali berkali
Di setiap hembusan asap paip tembakauku
Sehingga saban hari dileteri Sang Isteri
Lalu marahnya jadi rajuk enggan memasak nasi

Wow, apakah ini takdir Sang Penyair
Dipasak aksara hingga ke pinggir fikir
Lalu apakah merdeka itu
Kata keramat yang aku lumatkan
Ke dalam teror minda siang dan malam

Pasca merdeka, apakah aku masih dibelit ketakutan
Ketika membaca kembali pepatah Melayu
Episod pertarungan dua gajah dalam fikirku
Pelanduk puisiku dipijaki dan dilumati kaki globalisasi

Ya, bulan ini bulan merdeka, aduhai merdeka
Aku cuba membacanya dalam bening senja
Merdeka, merdeka, merdeka….
Sesekali menjerit atas nama merdeka

Aduhai 31 Ogos, ulangtahun kemerdekaan
Tiba-tiba menyimpan jerit halkumku
Ke dalam pergelutan fikirku dan membaca kembali
Apakah merdeka itu?


16 Ogos 2001
Kuantan, Malaysia.

<<<>

Danau
Sajak Fahmi SF

di tepian singkarak
malam berlabuh
perlahan merapat dalam kelam: sunyi.
hanya bayang bayang hitam
menari di atas riak.

sumatra barat, 31/8'00

<<<>

Ekstase Duka Bunga Tulip
Sajak sihar ramses sakti


: buat kekasih rindu dendamku, VAS

dari kesunyian di ujung musim
yang masih sangsai untuk mengenal kasih sayang
aku membiru dan terdekap di dalam perjalanan
kerontang kaki si musafir merindu waktu
dari sisi fajar yang bengkak jadi beledru
salju membuncah jadi nafasku
dunia asing melintas dari cemara-cemara
dan terus beranak berjuta di mataku
aku sangsai dalam pengembaraan tubuhmu
rongga-rongga jantungku meretas
mengulang sejarah yang terkapar di sisi jantung kita
rinai gerimis memerah, seakan jadi warna yang alpa
dalam sejarah manusia.
danau yang tak pernah kering oleh tangisnya,
mengirim jutaaan bunga pada setiap rumah-rumah
kesepian memagut tubuh, menjadi embun,
menjadi hitam dan usai pada jeritan-jeritan malam
tubuhmu adalah doa yang tak henti berkeriapan
tekun memagut sepi dari untaian debu dan bunga-bunga

Jakarta, 2001

<<<>

PERPISAHAN
Sajak Sury Waruwu

siang itu
kita bertemu
tapi tatapanmu tak kupahami

ada apa dengan kita
kenapa matamu merah
kenapa pula jantungku berdegup kencang
ini waktu terus berjalan
genggamanmu harus segera kulepas

<<<>

MENUNGGU LANGIT
Sajak mahbub jeud

Melirik sampingku rebah
Hanya sajadah
Yang tergelar
Selimut, sarung, bantal, melingkar
Tanpa aturan yang mantap
Tasbih menyebar biji selepas putusnya tali
Mengeryip,
Hari kurasa lama tidurku
Sepanjang pagi, menyisakan petang
Yang lengang
Lampu masih berkelip (kedipan layu)
Tidak lebar matanya benderang
Menungkup kamar dengan kelambu hitam tanpa lubang
Gorden meringkasi cahaya yang tergeletak
Dan dilempar begitu saja

Hanya sajadah
Yang tergelar
Di samping kelekar tidur lamaku
Aku menguapkan gumpalan-gumpalan ayat
Dengan sayap perak mereka sayup mengepak
Aku mengucak tatapan
Kurasa, wahai !
Sebelum runtuh
Bangunkan aku, langit
Dengan gegar petirmu !

Yogyakarta, 2001

<<<>

SAHABAT KECILKU
Sajak mahbub jeud

untuk ; Arif Jamal Rosyid

Sahabat kecilku, bangun lah
Engkau hendak menaiki sepeda Gazeela
Mendekat lah, merangkak
Jatuh kemarin
Bukan untuk mengeluh dan prihatin
Lalu kau tidurkan kehendak dalam selimut yang tebal
Menutup seluruh wajah sampai membebal
Ia harus terus tegak menatap masa, Sahabat kecilku
Menatap matahari
Hingga engkau tidak yakin
Sinarnya telah membutakan matamu
Tetapi ia sendiri meredup
Dan sayup-sayup meringkuk kalut

Sahabat kecilku
Jadilah pendaki
Agar saat matahari thulu` dan melangkah istiwa
Engkau telah menjelma gunung itu sendiri
Bersahabat dengan kabut tinggi yang suci
Di malam hari, dierami gemintang sunyi

Sahabat kecilku,
Engkau masih pasir
Kupinjami topi ini
: dalam mulut tiram yang pengap dan tidak pernah menyikat giginya
bersemedi lah lama
niscaya engkau mutiara !

Yogyakarta. 2001

<<<>

"Semangkuk Arak Pahit"
Sajak Buanergis Muryono

Kelaparan
Tidak harus makan obatnya.
Kepedihan hati
Bukan sekedar hiburan dinanti.
Ada yang lebih penting dan berarti
Di mana ditemukan kebenaran sejati.
Saat kebenaran itu lari
Pikiran jernih tiada lagi
Semangkuk arak menemani
Lalu gelaplah dunia ini!

Buanergis Muryono

<<<>

Dimuat hari Selasa, Agustus 21, 2001

Terlalu Banyak Ak
Sajak Anggoro

mata menggenang-genang, bicara tak ada cinta dini hari

meraba dendam, seperti aliran listrik menyentak hentak,
hari menjadi sajak, dalam benak, otak, jejak-jejak tinggalkan

tinta, pada buku harian yang miskin, layar yang tak terbeli,
dinding-dinding rindu akan grafiti

semua beralur pada satu lajur tuju satu kata : kerak

kerak yang muncul atas candu dahulu, kerak yang ada karena
nanah belum juga punah, kerak berkerak ingatanku
atas katarak, ular beludak, burung gagak berkoak-koak, amarah meledak

tiup-tiup hilanglah kerak, bicarakan saja awan-awan berarak,
selucu kanak-kanak berambut cepak, tak usah mengelak

ini masa rasa sakit hingga masa menjadi puisi,
jangan tertawa sepihak sewaktu aku bilang ingin beranakpinak

Depok, agustus 2001

<<<>

Puisi Kertas
Sajak Rukmi Wisnu Wardani

Jika api datang merenggut

Biar setitik abu kupungut

Rukmi Wisnu,

20 August 2001

<<<>

Muara Pun Kemarau
Sajak Rukmi Wisnu Wardani

Keruh aku

Rindui hujan

Rukmi Wisnu,
20 August 2001

<<<>

Adalah dada
Sajak Rukmi Wisnu Wardani

Berbuku buku kita tulis peristiwa
Dan rusuk kita jadikan almarinya

<<<>

LALU DUKA BERJALAN
Sajak Samsul Bahri

setangkai bunga putih
kini hanya tinggal kelopaknya saja

waktu yang singkat
telah ajarkan ratusan dan ribuan
kata kata wasiat

dan setangkai bunga putih
bukan lagi hiasan pigura

-tanpa pernah bisa tersingkirkan

Agustus 2001

<<<>

Layang-layang Lekang
Sajak Anggoro

: membumi

Segumpal awan berlayar di keluasan langit
berjanji tembus

nirwana kasat mata
singkap gerbang-gerbang bertingkap kerlap bebatuan
bulan berjuraian,

jatuhkan raga menjujuh lembut tubuh awan
terhempas ke sebuah dunia

tanpa bunyi-bunyian, bahkan detak nadi
pergelangan,

dunia biru, melayang-layang wadag termangu

"Itu layang-layang yang kau rentang
merenggang sedemikian lekang,"

kau tahu, bahkan layang-layang membenci lazuardi,
dibenaknya bumi bertabur pias dedaunan topas
tawarkan kehangatan

akan jejak tapak kaki : membumi

Jakarta, Agustus 2001

<<<>

SIDOREJO
Sajak Kurnia Effendi

Di teras itu, pernah lama…lama sekali
Kulumat bibirmu. Gelap terang-langit seperti kilau tembaga
Asin-manis hidup tercecap dalam deras waktu
Kelebat kisah, saling beranyam dengan tutur-kata
Buah bibir yang mencederai cinta
Ya, di teras itu, hangat tubuhmu merapat

Hampir tak sirna aroma tubuhmu
Menghubungkan dua jalan yang riuh padat
Hampir tak lenyap suara manjamu
Membiarkan kakilima membangun keramaian
Di teras yang – kini – asing, pernah tanganmu melambai

Memanggilku, atau memintaku pergi?


Semarang, 27 Juni 2001

<<<>

SONG OF DESTINY
Sajak Kurnia Effendi

Sekali lagi, jarak membuat kita canggung
Padahal, lihatlah: aku masih menyimpan karat garam
udaramu dalam sebagian besar tubuhku
Bukankah kau selalu tertawa, dulu, setiap
aku tertatih mengejar cinta, memetiknya, dan
dicampakkan?


Semarang, 27 Juni 2001

<<<>

SONG OF SEMARANG
Sajak Kurnia Effendi

Bermandi debu, berendam lumpur sungai
Terik mentari, hujan berhari-hari
Kota bawah dengan gemerlap daki, riang berseri
Kota atas, belerang Ungaran, tempat tidur juragan
Pagi terbit dari uap lumpia hangat
Malam meremang ke kota tua, dekat pelabuhan
Dekat peraduan…


Semarang, 27 Juni 2001

<<<>

EMPAT KWATRIN EMPAT JULI
Sajak Kurnia Effendi

: Nana


1.
Cahaya terbit dari mata yang terbuka
Pagi ini bola surya memiliki 4 warna
Putih, tembaga, kuning dan jingga
Seperti paduan rona, harapan yang membara


2.
Dari utara: laut bergelora meniru sukmaku
Dari timur, angin filsafat memanahku
Dari selatan kuterima pesan rahasiamu
Di ufuk barat seluruh luka jadi debu


3.
Cinta mungkin bukan kata-kata
Yang tersesat dari telinga ke telinga
Cinta bisa jadi bukan aksara
Hangat itu terasa di mana-mana


4.
Dingin perihku semata ilusi
Gugurlah sebagaimana daun-daun renta
Panas mengelupas kisah-kisah lama
Kini tiba musim semi cintaku: bebas dari duka


Jakarta, 4 Juli 2001

<<<>

SONG OF MISTERY
Sajak Kurnia Effendi

Kurasakan nafasmu dalam paru-paruku
Seperti mesin arloji yang tak terpisah dari waktu
Ingin kubaca setiap jejak detikmu
Kupahami arah untuk menyertai langkah
Menuju rahasia


Semarang, 26 Juni 2001

<<<>

SONG OF WOUND
Sajak Kurnia Effendi

Butir gula pun kehilangan bentuk, saat larut dalam air
Ia sanggup mengubah rasa tawar jadi manis
Mengapa kita senantiasa memelihara luka, hingga
mengeras bening?
Cecaplah rahasia manis dari setiap
kehilangan


Semarang, 26 Juni 2001

<<<>

SONG OF WISDOM
Sajak Kurnia Effendi

Mari kita meniru kejujuran hujan
Yang menyiram bumi dengan cinta
Tanpa pernah meminta kembali
Sedang bumi dengan tulus mengiriminya doa
Sampai terlahir jiwa yang perkasa


Semarang, 26 Juni 2001

<<<>

SONG OF DESIRE
Sajak Kurnia Effendi

Mungkin kini kaudengar derap jantungku
Memantik aksara rindu seperti morse
yang dikirimkan oleh jiwa letih
Berhari-hari tak sampai, meski
hanya sekedip mata


Semarang, 26 Juni 2001

<<<>

“PESTA KEBOEN”
Sajak Kurnia Effendi

Beranda rumah benderang, pohon dan lampu-lampu
Aku jatuh cinta pada suara kericik air
Mirip bisikmu, mirip tawa kecil manjamu
Siapa berada di dalam?

Daftar menu membuka pintu, dan
membawaku berjalan ke abad lalu
Ketika kita beresentuh jari, saling memandang
Berperahu dari Jembatan Mberok
ke Kampoeng Melajoe
Duduk beradu lutut. Berayun oleh ombak runtut

Di bawah payung kertas, berlindung dari rintik bintang
Dinding basah dan bilah-bilah lantai kayu
Siapa sesungguhnya kita?
Menikmati rijsttafel, dengan serbet di pangkuan
Dayu accordion dan desah biduan
O, Pangeran Pandan Arang…

Angin memasuki celah jendela
Mengayun daun dan kedip lampu
Memecah sebagian besar bingkai kenangan
Di mana kita kini?
Sebuah kebun milik Adipati Poerboningrat
Atau sepenggal ilusi makan petang
Yang berakhir dengan jam malam


Semarang, 26 Juni 2001

<<<>

LEWAT DEPAN GREJO BLENDOEK
Sajak Kurnia Effendi

Paling mudah adalah memandang jejak kaki sendiri
Terbenam dalam lumpur waktu: membusur jauh
Keping batu-cetak yang merapikan gerai uban kota yang uzur
Pada sela gedung, lorong jalan, genangan air
Tempat kita menyusun harapan
Dulu: ketika genggaman demikian kuat, untuk
menyongsong hari depan

Lampu menyala lebih dari biasa
Menyinari bopeng muka, otot yang mulai kendur
Dan rasa hormat atau kesediaan menjadi saksi
Kini aku kembali, menyapa lumut
Dan berusaha keras menjabat tanganmu

Mari kita mulai permainan itu
Siapa mampu menghitung jumlah burung pada lengkung
atap gereja? Siapa?
Warna perak langit seperti menangkap keinginanku
Inilah anak tangga, untuk mendaki ke loteng esok hari
Tempat seikat persahabatan terurai
Tempat persimpangan jalan menyatu


Semarang, 26 Juni 2001

<<<>

Dimuat hari Senin, Agustus 20, 2001

harap bagai angin
Sajak Sieva

tak perlu ragu langkahkan kakimu menepi
dari hasrat yang tak lagi milikku

ah, kau pasti pergi juga nanti
walau harap bagai angin
lembut membelai wajah yang tak lagi punya cahaya

<<<>

akulah badai
Sajak sieva

akulah badai,
si angin ribut bergemuruh saat datang
aku sipemilik jiwa penghancur
jangan kasihani jiwaku
jangan takuti ragaku
lihat kepuasanku
saat semua tergeletak tak berdaya
wajah peluh membayang pekat kematian
semu bahagia tertumpah air mata balas dendamku
semua lenyap
semua menghilang
aku bertiup sendirian nikmati gelung nafas milikku

akulah badai,
si angin ribut bergemuruh saat datang
aku sipemilik jiwa penghancur
jangan kasihani jiwaku
jangan takuti ragaku
lihat kepuasanku
saat semua tergeletak tak berdaya
wajah peluh membayang pekat kematian
semu bahagia tertumpah air mata balas dendamku
semua lenyap
semua menghilang
aku bertiup sendirian nikmati gelung nafas milikku

<<<>

INAYAH (Aku Tidur Sendiri)
Sajak Qizink La Aziva

Di meja nomor dua
makin jelas bayang-bayang
terlihat mendekat.

Anggur manis kau tuang
di cawan hati yang hampa
melepus dahaga yang lama menggoda.

Cheers!!
Telah datang cinta bagi kita

Katakan !
Apakah arti romantisme?
bila aku tetap tidur sendiri

Cilegon, 1 Agustus 2001

<<<>

Nyanyi Alam
Sajak Qizink La Aziva

Di bumi belah
dengung lebah memecah
lembut angin mengelus ranting patah.

Di kerajaan hutan
Garuda terbang perlahan
ke awang-uwung harapan.

Di tanah tandus
cacing-cacing kurus pirus
menanti musim berganti.

Sayang,
mari kita dengarkan
nyanyi alam di Bumi Tuhan

Cilegon, 2 Agustus 2001

<<<>

Mengapa Kita Berkirim Kaktus ?
Sajak Anggoro


: 'i

Surat-surat menganggu benak. Onak
yang kita tanam, tanpa keinginan
meluka

Mengapa kita berkirim kaktus ?

bunga lili telah tercerabut habis
dari bawah teralis jendela berkabut :

Sebuah cerita tentang kita,
menanam cerlang bintang di manik mata
sematkan pelangi di pintu hati

hantarkan kita pada musim penghujan

Mengapa aku biarkan berderaiderai hujan
di pias parasmu ? jadi telaga di hitam maniknya
mengapungkan makna bintang diciptakan
buramkan binar, cuma sepenggal sisa

terbenam, lewat kaktus yang aku tanam

<<<>

Pada Teras Kubaca Kalimat Bunga Mati
Sajak Anggoro

Hujan seharian, lumat daun-daun
hingga berkeringat
Sajak di sela badan menadah
hujan wajah

pada teras kubaca kalimat bunga mati :

amarahmu, kanak-kanak telanjang
di pinggir pematang
kau buka resah sedemikian kuyup
hingga itik-itik membacamu

deramu, menancap pedih
menjadi geram,
peram bulir-bulir padi
bentuk ulat-ulat pematuk
bersama-sama mereka berdendang kayuh ;
ini bukan saat bersauh

pada teras kubaca kalimat bunga mati :

amarahku, telah jadi batu
saat kau patahkan lengkung rusuk itu

Jakarta, Agustus 2001

<<<>

ketika ingat hari-hari
Sajak sutan iwan soekri munaf

Ketika ingat hari-hari. Jalan panjang sudah menyempit di mata sepi. Tidak ada suara datang membawa waktu sambil mengantarkan semilir angin dan tawarkan penat.
Ketika istirahat semakin mendekat. Dari sini tampak bukit semakin kecil dan lembah menghampar semakin lebar. Di sana ada burung terbang dan petani bernyanyi tentang gabah yang harganya tidak boleh terlalu tinggi dan pupuk selalu berlari ke langit. Burung kehilangan padi yang tak menyerak di sawah-sawah lagi.
Ketika suara itu datang membawa waktu, tidak seorang pun mempersilakan sepi dan tiada jamu yang tersaji. Hanya kata melipat makna dan dunia semakin asing di dalam perut petani dan burung-burung pagi.
Ketika langkah menjadi detik dan jarak menjadi menit, berapa jam lagikah halteu itu? Baranglali petani dan burung-burung saling bagi rezeki...

Ragunan, Jakarta, Agustus, 2001

<<<>

RUMAH UNTUK SYAM ASINAR
Sajak Yono Wardito

lahir bathin, kita mau berbenah diri, membangun rumah dari kumpulan tinta
dan kertas. lahir bathin, telinga dan tangan kita terbuka, sebagai pintu dan
jendela menuju ruang hati yang paling lapang : darah-darah yang mengering
menjadi udara, mengenali rumah kita, o mari. lahir bathin, tentangga tak
perlu bersepakat sebagai lidah dan mata kita, o mari saja : kita meraba
jalan diwuwungan cahaya, mencium salam pada angin yang lewat, menatap diri
kita yang sendiri di situ, seperti peluru mencari bedil.

<<<>

HUJAN DI DANAU
Sajak Yono Wardito

di danau itu
- hujan tulang dan abu matahari.

<<<>

MANUSIA, AKHIRNYA CUMA SEPOTONG NAMA
Sajak Budi P. Hatees

--ni ketut maya tirtasari

manusia akhirnya cuma
sepotong nama
yang cepat diabaikan karena fitnah
tak ada pergaulan
tanpa pengkhianatan
sebab itu tak pernah ia rindu
sebuah negeri yang berseri
tempat fondasi
ditanam dalam-dalam
rumah sebenarnya
alamat bagi kembara
atap atas panas membara
dan hujan menyiksa

tapi ia tahu pulang ke dadanya sia-sia
deru angin yang kering

musim yang gering
mengikis semua tempat
untuk istirahat
sebuah ruang dengan pilar-pilar retak
cat di dinding mengelupas
sawang berjalinan
dan kesunyian
lebih menyiksa dari kematian
ia tahu, manusia
akhirnya cuma sepotong nama
yang cepat diabaikan karena fitnah
tapi ia tidak pernah siap
untuk menghadapinya.

<<<>

Jarum-Jarum Hujan Menyerbu Ubun-Ubunku
Sajak Lukman A Sya


Guru, ada seseorang yang mengirimkan bangkai-bangkai semut
lewat darahku
bekas sarangnya dirusak kalajengking yang mabuk
Dan aku sendiri tuhan kecil yang suka mengutuk
rayuan kematian
Kematian yang menari-nari di jasad semut-semut itu.
Tiba-tiba kepalaku berputar seperti bola dunia
yang kehilangan kenangan
Guru, kata-kata yang kaucucukkan di keningku
merestui rasa nikmat cinta yang tak acuh pada darah
kepedihan.
Tiba-tiba jarum-jarum hujan datang menyerbu ubun-ubun
mengutuk si tuhan kecil ini
yang suka membiarkan kebohongan berkuasa

Indonesia, 2001

<<<>

Panorama Sunyi
Sajak Lukman A Sya


Aku menatap ke luar jendela
mengekalkan sunyi; melayangkan harap seperti pucuk
yang melambai lirih memanggil angin.
Ternyata cuma ada kelengangan di jalan-jalan
kesepian bergemericik di selokan-selokan
menuju hatimu. Sawah dan embun rindu memadukan hasratnya
ingin menghijaukan cinta dalam rasa damai
di bawah langit mencumbu awan-awan berarak
bercanda dengan matahari. Rumput-rumput liar menyimpan kenangan
di pekarangan dadamu, melupakan bunga yang gugur.
Tetapi hanya tanah yang menyatukan kita
untuk membangun doa hidup yang jujur
Sementara sungai itu biar menghanyutkan
dosa-dosa, bersama gemuruh kata
yang mengendap di perahu jiwaku.

Indonesia, 2001

<<<>

Burung-burung dan Angin Bertasbih seperti Kata-kata
Sajak Lukman A Sya


Burung-burung dan angin bertasbih seperti kata-kata
yang hidup dalam dadaku merindukan kelezatan makna
Mimpi dan cita-cita bersedekap di pembaringan istirah.
Daya khayal rumput-rumput tak menolak cumbu semut-semut
yang membangun rumah sunyi di bawah tanah gembur
kasih-sayang. Suara dan gema sajak telah menebus
luka-derita langit dan bumi. Kembali ke asal
keheningan yang abadi.

Burung-burung dan angin bertasbih di jiwaku
Jiwaku yang penuh rindu menolak bangkai kecemasan
yang diseret masa lalu itu
Tuhan cahaya, tariklah hasratku! Sebab sungguh
aku berharap mampu kilat menaklukkan ular di nadiku

Indonesia, 2001

<<<>

Pecahan Gelas
Sajak Lukman A Sya


Pecahan gelas itu sungguh mengerikan
di sudut dapur merindukan darah. Sementara laki dan perempuan
yang kawin atas nama angin telah saling membelakangi.
Pecahan gelas itu mengutuk kenyataan hidup
cinta yang cuma dipajang di lemari kaca. Telah berdebu
Lantai pun tak lagi sudi meditasi, mendoakan ranjang
agar tetap sabar tak mengamuk

Tuhan, pecahan gelas itu menyerang mata kehidupan
seperti kemiskinan yang tiba-tiba liar di jalan-jalan
Sedangkan laki dan perempuan itu menjelma ular
yang melingkarkan rasa kecut.
Anak-anak pun harus rela menjadi tiang-tiang kurus
menatap masa depannya yang cemas

Indonesia, 2001

<<<>

Siapakah
Sajak Lukman A Sya


Siapakah yang datang ke mari
dengan langkah diikuti gerak angin
menyapa pintu
Siapakah yang tak ke mari
diamnya begitu linu
mengurung hati pilu


Indonesia, 2001

<<<>

Ketika Langit Menumpahkan Rasa Sunyi
Sajak Lukman A Sya


Langit menumpahkan rasa sunyi
Bumi masih mencemooh puisi yang kutulis
di kening. Bayang-bayang keikhlasan
menggambar kehidupanku
-Aku adalah si gelandangan yang mencoba tasawuf
dikurung doa langit untuk terus memahat puisi

Indonesia, 2001

<<<>

Akan Kulintasi Peradaban Senja
Sajak Lukman A Sya

Akan kulintasi peradaban senja
menerobos gelap malam neraka tanpa tangis.
Kupahami sungai dan udara tanpa rasa kalah
ketika tubuh-tubuh itu dikurung rasa cemas
Dan senja memang merestui segala kiblat puisi
bagi mataku

Akan kulintasi peradaban senja
membawa kisah pagi yang dibunuh sunyi; prosa siang
yang terbakar di ranjang kudus
ketika kata-kata menyetubuhi sang waktu
Dan anak-anak cahaya pun bermain dalam puisi

Indonesia, 2001

<<<>

Kekasih
Sajak Lukman A Sya


Segala puja-puji aku haturkan kepada kelopak matamu
yang menciptakan embun
begitu suci dan bening. Kenangan dan cinta bersujud
O. Lihatlah! Kupu-kupu telah kedinginan di hatiku
Ke manakah mencari matahari

Di atas sajadah ini aku menjelma keterasingan batu dan merasa sepi
Maka. Kepada laut aku merindukan cahaya mutiara
kepada gelap aku minta selimut bulan sabit
kepadamu, biarkan aku menjamah dadamu
dan mencecap rasa anggur di bibirmu yang mungil dan tabah

Indonesia, 2000

<<<>

Nasib Langit
Sajak Lukman A Sya


Memang langit selalu kanak-kanak
melempar-lemparkan hujan; bertukar rupa dengan laut
mentertawakan dingin yang kupeluk

Memang langit selalu kanak-kanak
hujan dibuatnya gusar. Cuma mengecup tanah?
ketika pohon menggigil terlalu rindu
sungai-sungai yang mengenang masa remaja
menyimpan ikan-ikan bercumbu
dengan kangen batu-batu yang menunggu
di riak nasibmu

Memang langit selalu kanak-kanak
ditatapnya genangan hujan
yang mengandung rasa manis puisi
menafasi doa bumi untuk akar-akar
yang tak mengeluh, tak kehilangan siasat

Memang langit selalu kanak-kanak
setelah ditinggal hujan ia membisu
menatap sunyi di dua sulbimu

Indonesia, 2001

<<<>

Reportoir Senja Hari
Sajak Lukman A sya


1.
Ada ingin melintasi benua
bagai burung mengunyah angkasa
bagai sajak cintaku padamu
O! Daratan dan lautan yang telentang
ajaklah nafasku di anginmu
meresapi panas dan hujan
memburu rindu pada tiap detak jantung
menolak debu-debu. Keheningan,
O! Keheningan, datanglah!
sang abdi telah memanggilmu
sebagai kekasih sekaligus budak belian
yang tertikam waktu

Ada matahari surup di dadaku
merindu bulan sabit
tertanduk kekuasaan
Bulan sabitmu tersaruk-saruk
di angkasa batinku.
O! Sang kala yang maha hebat
kembalikan aku pada kehidupan!
mengambil daster-daster rinduku
yang tersangkut di pohonan
segera kukancingkan cinta. Meski
belum usai bermandikan puisi

Ada sujud mengikuti pusaran doa
shahadat-shahadatku bangkit dan menyala
inginku menjadi pengantin
matahari menjadi wali
bulan sabit menjadi saksi
mas kawin adalah nafasku

2.
Ada anak-anak cahaya berkejaran
di pantai kita yang lelah tengadah
langit menjadi kapas bagi tatapmu yang kabut
tanah berlinang embun bagi gairahku
Kita mengejar anak-anak cahaya
melompati rintihan-rintihan pasir
sambil mengusir bianglala

Ada kecemasan yang menguap dari tanah-langit
dipanggil matahari
“Kita tidak sempat melahirkan sang anak yang baik,” katamu
“namun cahaya yang berjejak itu menjadi mimpi kita
barangkali sia-sia.” tegasmu

Ada maut mengintip ubun-ubun
saat tahta, darah dan turunan lenyap digulung
gelombang yang mengancam

3.
Ada dua makhluk yang kukuh di kubur kita
matanya bercahaya. Dan bibirnya bertanya:
Bangsa apa asal kalian? Bar-bar, jawabku
Siapakah nabi kalian? Nabi kesunyian, jawabmu
Apa yang menyatukan kalian di kubur ini? Cinta, jawab kami

Ada mimpi yang menyeretku
Ada harap memaksamu
terasa sakit. Dihimpit. bahkan menyilet
pedih sungguh hidup kita
dalam udara

Indonesia, 2000

<<<>

Aku dan Bunga-Bunga Itu
Sajak Lukman A Sya


Kusampaikan hasrat dan gelagat pada bunga-bunga yang tumbuh sunyi
merindukan musim damai; cakrawala damai; tanah bumi dalam mimpi damai
Tetapi angin sungguh tak bersahabat; bosan pada kata cinta
yang diucapkan dalam pengap. Sebab yang hidup di taman-taman
kejengkelan rumput pada jiwa kemanusiaan yang sengsara
ketika gemuruh dan ledakan-ledakan rasa benci menggetarkan
sungai yang mengalir tenang membagi-bagikan cintanya ke sawah-sawah
yang tak pernah mengeluh.
Hasrat dan gelagatku pada akhirnya sunyi seperti nabi
melihat bunga-bunga kini menangis dalam gigil hidup yang terasa sia-sia
Masih belum juga harum sukma-sukma itu dan dapat menjelaskan
keberadaan yang tentram, orang-orang tak berebut nafkah dalam tengkar
Tapi apakah seutuhnya kehidupan harus dalam tentram?
Pertanyaan yang sungguh membuat penghuni taman doa memekikkan tangisnya
sebab merekalah yang menginginkan siapa pun menuju tentram laut
meski ada gelisah ombak, cemas batu karang serta pantainya
yang merintih
Adalah laut tempat untuk berbagi rasa dan bertukar cerita. O!
Apakah inti kehidupan ada di dalam bunga-bunga yang tumbuh di hatiku
ketika langit telah sembab oleh duka. Jalan-jalan menyimpangkan hasrat
karena tahu di depan ada dewa-dewa kecil yang lebih ganas dari sekedar fira’un
membuat kerusuhan sebagai ungkapan dari kekuasaan yang pengecut.
Bunga-bunga dan syarafku tegang setelah seharian
mengkhayalkan taman-taman bebas dari sulutan-sulutan dendam
justru menginginkan doa-doa menuju keikhlasan dan kepasrahan
menolak bencana
Maka aku dan bunga-bunga mengharap pada musim mengajariku kesetiaan
langit dan bumi sebagai hasrat yang tak pernah berdusta
Bahwa ia, musim itu, ingin dalam damai. Tak ada murka lagi
yang dilepaskan jiwa-jiwa kemanusiaan yang pecah
karena hasrat dan gelagatku menjadi doa, tatkala hidup yang penuh riuh
menggolakkan kata-kata. Sebagaimana malam masih tetap menyimpan
cahaya bulan. Aku pun ingin terus bermain di bawah cahaya bulan
menyaksikan bunga-bunga yang mulai tersenyum
Masih ada harap yang setia bermimpi dan mencintai segala kemekaran
sebagai isyarat rasa damai telah tiba dalam ayat-ayat yang tertera di
istana cinta. Bunga-bunga itu pun menyapa hatiku yang sendiri saja
mengolah kata-kata, jadi huruf yang baik pada segala kata
Bunga-bunga pun karib dengan perasaanku yang hampir membeku
mencangkungi nasib kemanusiaan menolak kebengisan dan kerakusan.
Taman-taman di muka bumi harapku tak akan bisa ditaklukkan
oleh dendam dan ancaman. Mereka serempak menghimpun diri
dalam doa: Pangeran sunyi-lah yang kuat dan perkasa
menciptakan kemanusiaan jadi hidup; mengembalikan
setiap hasrat dan gelagat ke asal bayangan
Amsal maut yang menjembatani hidup resah ke hidup damai
Maka aku dan bunga-bunga itu sepakat bertegur sapa
dalam duka dan cinta menolak amukan dan dendam. Memahami hidup
sebagaimana nafas hidup memahami jiwa pengembara.
Maka aku dan bunga-bunga itu cukup mengeluh dalam dzikir
untuk kemudian tumbuh di diam semesta menghayati keberadaan
Aku belajar teguh pada kemanusiaan yang diisyaratkan bunga
pasrah pada kehendak langit. Sambil mengukur jalan dengan nafas sendiri
membagi-bagikan cinta sebagaimana sungai yang mengalir tak letih-letih

Indonesia, 2001

<<<>

Victims Still Must Smile*
Sajak Lukman A Sya


Pada pagi yang mencengkram sunyi; sunyi mencakar pagi
langit mengakhiri cerita hujan yang sedih: tinggal
genangan itu seolah abadi mentafakuri kata-kata yang dikorbankan
dan masih harus tersenyum pada tubuh dan jiwa yang mengkhotbahkannya
begitu setia. Mereka menggeliat dalam nikmat yang terpaksa
mencari jawab dari tanya; melepaskan tanya untuk sebuah jawab
seperti paru-paru yang jadi huruf
bagi para serdadu penyair di tengah kancah amuk rasa cemas. Berpeluh
menemukan siapa yang paling ingin menjadi korban kata dan dikorbankan
untuk membusuk menjadi tanah yang masih ikhlas pada genangan itu.
Maka pada kekuasaan sebagai tuhan, segalanya sungguh nyata
Tangan-tangan harus menari; bibir-bibir harus bernyanyi
menafasi bahasa-bahasa yang didamaikan angin
memahami cinta di daun-daun
yang akan sempat gugur sebagai pahlawan sunyi
menyampaikan keriangan yang dimerdekakan burung-burung
di tanah airku yang masih harus tersenyum seperti kalian
yang sengsara kehilangan nyawa; jiwa-jiwa
kembali menguap bersama rasa sedih ke langit seperti kata-kata.
Pada akhirnya,
kata-kata meninggalkan rambut-rambut yang dikusutkan darah kering
meningkahi persoalan yang gentayangan sebagai setan
yang berpaling dari taubat pagi


Indonesia, 2001

*) judul puisi ini dicuri dari judul lukisan Toto Sugiarto

<<<>

Kalau Langit Sudah Marah Begini
Sajak Lukman A Sya


Kalau langit sudah marah begini
hujan terus-menerus bersedih
mengguyur kelahiranku. Angin
mengajak pohon-pohon
ikut menari dalam doa. Sampai tegas
siapa yang terjungkal hari ini
menemu sang nasib di kehendak
darah dan air mata

Kalau bumi sudah muram begini
lampu-lampu pada mati; tanah-tanah
mengenang rasa cemas sepanjang was-was;
jalan-jalan memanjang dalam kekeruhan
tabiat. Apakah matahari
masih mau menyalakan sunyi di hatiku?

Kalau bumi sudah parah begini
apakah angin dan hujan masih ingin
memperbaiki musim kuasa? Langit dan bumi
bersepakat dalam khusuk menciptakan istana
cinta. Dan aku melihat diriku dalam
bayangan cahaya lilin, menjadi nyinyir
pada yang masih bergerak sebagai ancaman

Indonesia, 2001

<<<>

Ketika Sunyi Menciptakan Tuhan
Sajak Lukman A Sya


Ketika sunyi menciptakan tuhan
dan tuhan menciptakan sunyi
aku merajut kain hidup untuk menerima
kebangkitanku sebagai jarum yang menolak dukalara;
sebagai yang hidup dalam puisi;
sebagai yang menghasilkan mantra-mantra
memaksa mimpiku harus nyata

Ketika sunyi mengkhianati nabi
tuhan mewartakan kabar buruk
bagi rasa liar dan ular kata-kata
karena nabi telah membakar semak-belukar yang jahat
O! Kadal sunyi. Jangan kau tatap lagi aku
sebagai katak kecil yang mencintai rasa laparmu!

Indonesia, 2001

<<<>

Berjalanlah
Sajak Lukman A Sya


Berjalanlah seekor harimau dengan rasa lapar
dalam pikiranku. Ia mencari. Tapi kepincangan kaki
menjadi yang maha agung untuk tidak berangkat
ke mana pun. Diam sesaat sambil merasakan nyeri.
“Padahal aku butuh kekuatan untuk menaklukkan rimba,” katanya
Air mata seperti tak bosan-bosan keluar dari sumber kesengsaraannya.
Apakah arti sengsara ketika justru kehidupan ini sesungguhnya
sengsara?
Seekor harimau tidak menjawab duka lara dengan doa
Doa hanyalah ruang untuk semakin melacurkan diri dan menunjukkan
kedunguan diri yang sebenarnya di hadapan tuan Tuhan
Kepada siapakah ia harus mengembalikan seluruh keyakinan
bahwa dirinya pasti ada yang membimbing ke arah cahaya?
Seekor harimau cuma dapat mengenang masa lalunya yang manusia.
Sedangkan perasaanku berkaca-kaca
merasakan yang tak pasti

Indonesia, 2000

<<<>

Keajaiban yang Maha Ajaib
Sajak LUKMAN A SYA

Dan Langit Merunduk pada Cahaya
Kita Berdzikir di dalam Kata

Kalimat-kalimat cinta menyebar
di langit Allah. Matahari mencecap
bumi yang bergetar kasmaran
Huruf-huruf tauhid memancar
dari dadaku menyerap tatapan Allah
dan mataku mengisahkan dzikir

Langit merunduk pada cahaya
sedangkan kalimat cinta yang terbayang
terhuyung-huyung. Menjadi awan diseret angin
dan gaib dalam kenyataan yang biru

Di puncak keagungan Allah
tak siapapun mengelak
dari restu maupun kutukan:
Seekor kucing telah menjadi manusia
di gendongan ibunya
dan manusia berubah kucing garang
di panggung peradaban

Indonesia, 1999

<<<>

Tiga Bait Sajak
Sajak LUKMAN A SYA


Angin dan rintik hujan
mengirim bencana di suatu hari
yang redup
“Kami sadar betul, Tuan
tak ada yang pantas kutangisi
misalkan anak sendiri menjadi maling
dan memperkosa.”

Bukit-bukit yang nungging ke langit
dan matahari yang memar
berkemeja awan mendung
menanti kiamat sambil berkawih
“Kami sadar betul, Tuan
keindahan cuma fatamorgana
yang bimbang dan ragu.
Lambat laun ia bunuh diri
Adapun comberan tempat kencing nyonya dan tuan
sorga bagus yang terlupakan.”

Mesjid dan gereja yang menyatukan hasrat
mencapai Allah. menggugurkan air mata:
Ada yang layak dihancurkan
Ada yang kekal dikhotbahkan
“Kami sadar betul, Tuan
gelap tetap cemas, siang tetap gamang.
Yang telanjang itu perawan
yang merana. Seperti negara.”


Indonesia, 2000

<<<>

Berbicara Dengan Diri Sendiri
Sajak Lukman A Sya


Berbicara dengan diri sendiri berarti aku mengeraskan kata-kata pada kekasihku
disaksikan ibu. Dan adikku mencibir karena takut kehilanganku sebagai
diri sendiri. Mata yang cekung karena semalaman gelisah menunggu langit
yang belum juga sujud
Aku terus-menerus membaca keresahan mimpi di antara alis mega-mega dan
angin yang telah lama menciptakan ruang penciuman untuk merasakan
bau siapakah ini yang bertukar nafas dengan pohon-pohon
Rambutku yang berminyak yang dijaga telinga-telinga labil
masih mendengarkan doa cakrawala. Tempatku mengibaskan rindu sebebas mungkin
Aku masih berjaket sunyi menaklukkan kekasih yang sedikit keras kepala
karena tak paham kandungan prosa jantungku yang terus berdenyut
mengikrarkan puisi-puisi. Leherku dengan buah jaqun yang kurus menyimpan
jalan bagi kenangan dan kepahitan nasib. Sementara kulitku yang
membungkus kesetiaan, berdagingkan yang paling sejati. Setia pada urat
dan syaraf yang mengantarkanku pada khayalan matahari
Bibirku yang tebal tak takut pada cuaca: apakah musim yang demam
pada kemarau atau hujan yang demam pada musim?
Aku akan terus melafalkan nyanyian-nyanyian perih dalam kegembiraan
huruf-huruf
Sampai pagi kembali aku tidak akan menggantikan langkah-langkahku
tetap sebagai ombak yang berguru pada pantai hatimu
Aku akan terus menumpahkan hasrat sukma yang menjadi perahu
Aku tidak takut pada benturan atau karang yang diledakkan!

Indonesia, 2001

<<<>

ombak cinta
Sajak Saut Situmorang


-untuk Indah IP

ombak cintaku gemuruh
bergulung gulung menghampiri
pasir putih hatiMu
janganlah Kau berlari menjauh...
biarkan buih putih membasuh kakiMu
bermain dengan bayangMu
di antara jejak jejak camar
kerang kerang kosong warna warni
seperti bocah kecil dari masa lalu yang jauh
angin laut yang bertiup lembut
menyanyikan puisi ini
hanya untukMu
biarkan tersangkut di rambut
yang berkibaran
bagai daun daun nyiur
di kaki langit biru
yang merangkulMu

denpasar, 12 agustus 2001
20:00 pm
saut situmorang

<<<>

graffiti, by-pass dan sunset
Sajak Saut Situmorang

ada tulisan di dinding kotaku
dari atas by-pass 100 km/jam
dia berkelebat bagai mimpi yang selalu kembali
mungkinkah itu cerita
yang didongengkan buih laut ke pasir pantai
dalam lagu camar putih dulu?

sunset di sini berarti puisi yang menari
bersama wangi alkohol
merayakan kelahiran kembali

denpasar, 15 agustus 2001
00:10 am

saut situmorang

<<<>

metafor tengah malam
Sajak Saut Situmorang

ibu batu muda menggendong bayi batu
dan empat jalan kota Denpasar tersesat
di pinggul batunya
di dekatnya dengan segelas kopi hangat
(karena di sini alkohol tidak boleh masuk)
aku memandang termangu.
seorang bocah gelandangan
mabuk bir katanya dan menantangku menuai alkohol malam
meraung ke langit bagai seekor srigala terluka
dan dia merangkak ke patung ibu muda dan bayinya
itu...
apa yang dilihatnya waktu mendongakkan kepala
di kaki batu ibu batu itu?

sebuah malam jahanam telah membuat
kopi manisku pahit sampai ke sumsum.

kau mengerti maksudku?

denpasar, 15 agustus 2001
00:20 am

saut situmorang

<<<>

dari galau jalanan kuseru namaMu
Sajak Saut Situmorang

aku pengembara
hangus usia di jalanan kota dunia
aku coba lihat makna di langit semesta
tapi awan perak begitu menyilaukan mata

kampung halaman hilang dimakan pahit kenangan
ada memang tertinggal nyanyian anak anak terang bulan
tapi itupun cuma luka entah kapan tersembuhkan

aku pengembara
mabuk sendiri antara langit dan bumi
dadaku tiba tiba berdegup nada baru
menemu senyumMu yang lebih alkohol dari alkohol itu

nyanyian jalanan mendengung menarik seluruh aku
tapi hatiku terpecah di tikungan lembut sapaMu

kuta, 15 agustus 2001
17:50

saut situmorang

<<<>

MELUKIS WAJAH ASING (DARI DUNIA HILANG)
Sajak Pinang


: pelukis wara anindyah

dalam relung kaupanggil aku merobek kanvas-kanvasmu karena di balik dinding
telah kausiapkan sebuah dunia asing. maka kita pun berkenalan dalam tebaran
topeng-topeng memar oleh sejarah. wajah-wajah itu seperti kukenal pernah, di
mana entah. mungkin itulah wajah-wajah kita sendiri. terseok-seok liurku
bertetesan dalam debur jantung yang ringas oleh dongengmu tentang lelaki dari
dunia hilang, hingga kautampar wajahku sendiri dengan senyuman dewi kwan im dan
bulir jewawutnya menebarkan embun ke bibirku yang haus, terbakar oleh
ledakan-ledakan bom di televisi, tersihir kata-kata racun di udara yang setiap
hari kuhirup

lalu kauceritakan padaku tentang perempuan terindah
aku tersenyum, meski tetap dalam kesenyapan yang asing

*yogyakarta, agustus 2001

<<<>

SEBUAH GORESAN PADA KANVAS
Sajak Pinang


:mozart

maka tetes-tetes embun di pelupuk
telah mengukir huruf-huruf pada batu
prsasasti. biarlah tenggelam dalam beku
sumur waktu

lukisan musim lalu dan kanvas putihmu
masih kosong. dalam pelukan hatimu
meski telah kautujahkan titik pada setiap tanya
dalam relung, masihkan terbaca

warna-warna, alun gelombang, juga batu
pisau, kuas dan tinta hitam, benarkah untukku?


*yogya, 11 agustus 2001

<<<>

MEMAHAMI SENJA TANPA GARIS MERAH
Sajak Fadlillah

Waktu senja, bukan berhala kawan Her, ketika datang
melepas kepergian yang aneh, aku, kamu, teman-teman,
entah siapa lagi. Tapi malam yang datang apakah dapat
memahami senja yang berlalu begitu saja. Melainkan
perjalananlah yang melelahkan, berkejaran, di
persimpangan yang meragukan, dan telepon itu dari
siapa. Ada orang-orang bercerita, dalam esok sebelum
pesta, besama kopi malam, rokok tanpa makan malam,
kuingat gemuruh kereta seperti bangsal yang
berantakan. Tak tahu pulang kembali menyisiri bandar,
tak peduli ada perahu sebagai cerita atau mungkin di
muara ada kapal yang melaut malam itu karena tidak ada
garis merah di sana, dalam warna hitam tak terkira.

Lapau Bundo, 15-8-2001, 24.50

<<<>

seperti januari pada desember
Sajak m. aan mansyur

:tak pernah ada waktu menghitung detak musim.

erat sekali indera kutanam menanti suara ranting patah oleh sepatumu, singgah menghapus titik air di kedalaman mataku
seperti januari pada desember.

juli 2001

<<<>

disini
Sajak kembara kelana

disini
ada belaian syahdu
kupotretkan buat kenangan
didalam memori hidup
disini
ada melodi sedih
ada airmata berlinangan
mencari erti kehidupan
seolah tiada akhirnya
disini bersama terik sinar mentari
dan kehieningan pagi tiada lagi
kumeniti ruang terbentang
apakah dapat kutempuhi
kembara sesunyi ini

<<<>

Kesedihan
Sajak Myrna Tania


Aku mendengar suara keluar dari kesedihan
Berbalut sayap hitam dia mendatangiku menembus rintik hujan
Kulihat sayapnya membentang diatas kepalaku
mengeluarkan gemuruh dalam warna hitam
Guncangannya membuatku meneteskan air mata
Ingin kupastika itu hanyalah rintik yang membasahi wajahku
Tapi hati kurasa ikut menangis juga

Kulihat seberkas cahaya dari sela-sela sayap hitamnya
dan ingin kusibak segera
Tetapi tanganku lemah
Kupejamkan mata agar kurasa ini mimpi belaka
Tapi suara kesedihan semakin nyata

Sesak kurasa, sayap itu semakin menghimpitku
Gelap kurasa suasana yang mengelilingiku
Aku harus bagaimana?
Adakah yang bisa mengangkat kesepian ini dari jiwaku?
Bisakah kesedihan ini pergi dariku?
Sedang aku sudah tak percaya lagi pada-Nya

Aku bergantung pada kegelapan
Kesedihan adalah nafasku
Kesepian adalah jiwaku
Kegelapan adalah hidupku

Bukan sinar yang menjadi temanku
Dan aku merasa sesak lagi
Kudengar suara dari mulut kesedihan
"aku dirimu.." bisiknya perlahan
"aku milikmu.."

KA Parahayangan

<<<>

Requiem (1)
Sajak Sihar Ramses Sakti


: kukibarkan satir di altar kita


aku masih tetap mengenangmu
di antara almanak yang mengering di sisi wajah kita.
melumuri bingkai-bingkai perjalanan,
sebab kesetiaan tak selalu dihadiahi dengan tanda mata
atau oleh-oleh dari kesabaran sejarah.
kususuri rembulan bukan tanpa persiapan doa-doa
mantra telah kutancapkan,
batu kutanamkan di hati yang mengeras jadi wajahmu.
inilah altar kita. yang menyebar dari deru nafasmu
melintas ke ujung-ujung nadiku.
matahari telah meregang nyawa.
aku membunuhnya demi amanat yang kau letakkan
di sisi percumbuan kita.
mengeja aroma mawar yang masih basah
ku pungut anak rambutmu, yang terserak lorong-lorong mimpi kita
sabar memasangi pelangi di kedua cuping telingamu
agar semakin nikmat perjamuan malam
dan upacara kedukaan makin syahdu oleh waktu yang menua
masih kukecap bayangan camar mengetuki pembaringan kita
bercerita tentang waktu-waktu dan harapan
aku dendam memburu nostalgi yang liar merenggut tubuhmu
menikami almanak yang berkembang biak di jantung malam
dari sunyi yang pepat padat, ku eja pelan namamu
menghapus noda senja dan menyerahkannya pada kesunyian
: engkau mengejar pagi dan setia membungkusi
doa-doa telanjang kita.

Jakarta, Akhir Juni 2001

<<<>

Requiem (2)
Sajak Sihar Ramses Sakti

masihkah aku sanggup menghirup udara
dari jantung yang kau rampok semusim lalu.
kerinduan camar tua melayang di mataku.
mengingatkan kita pada kota-kota usang.
aku sangsai dalam longsoran ilalang dan batu-batu,
rata tubuhku dalam pemakaman sejarah kita.
kelelawar-kelelawar menjerit,
menjelma jadi jelaga, daun bertaburan
dari mataku ke dalam persemayaman kita.
terbaca roda-roda sejarah: in memoriam anonimus
-- disini telah beristirahat kekal sebuah kerinduan --
hanya tersisa bungkahan merah
yang kubungkus dengan balutan kata-kata
malam menyembunyikan mawar
tetesan embun menguap di kaki-kaki fajar
engkau terus mengenangku
dan mengetuki rumah kita
dari setiap sungai mimpi yang basah

jakarta, medio 2001.

<<<>

JEDA WAKTU BERLAPIS
Sajak Samsul Bahri

tangis
meremukkan sumsum sebuah kehidupan

bahagia
kucurkan senyum suka pada dua hati satu jiwa

tapi kematian dan cibiran iri
dua buah yang tak bisa dihindari

kini waktu hanya tunjukkan tangis dan bahagia serta
cibiran iri
entah kapan kematian mulai unjukkan diri

17.08.01
15.05

<<<>

air mata
Sajak Samsul Bahri

basah
bening di lembut pipi

duka atau suka
di hati

air mata
kenapa tak berubah menjadi

-Mata air cinta
17.08.01

<<<>

Detik Yang Tercipta Dari Butir Airmata
Sajak Nanang Suryadi

Detik tercipta dari butir airmata
Di sudut kenangan mengekal
Sebagai mimpi kembali datang kembali pergi
Tak habis urai tak habis lintas

Adalah bujuk kerling menusuktusuk rabu suntuk
menghujamtunjam ke lubuk hibuk
Menyayatsayat memerihperih merajuk tunjuk
Secawan teguk o secawan teguk menuba mabuk

Sawanlah orang terburu melulu rindu
Mengetuk pintu menutup tutup
Tak tentu! Tak tentu!

Lalu apa maumu apa inginmu
Membadai samar arah tuju
Dalam mataku! Dalam dadaku!

<<<>

: SEPERTI KUDENGAR DERAI
Sajak Nanang Suryadi

:rww

Seperti kudengar derai, bukan tawa
Tapi engkau yang menulis tentang daun daun jatuh

Seperti kudengar derai, bukan tawa
Tapi engkau yang menulis tentang kepak sayap burung

Seperti kudengat derai, bukan tawa
Tapi engkau yang menulis tentang sebuah taman sunyi

Seperti kudengar derai, bukan tawa
Tapi engkau yang menulis asin airmata

<<<>

Di Putaran Roda
Sajak Nanang Suryadi

: wardah & malna

Di putaran roda siapa mengeja nasib

Tergilas o tergilas dalam deru motor
Tersemprot o tersemprot asap knalpot

Siapa memutar-mutarkan roda

Satu roda dua roda tiga roda
Dikayuh dengan berani, teriak: "Bersatulah masyarakat miskin kota!"

Bersatulah!

Seperti kubaca kemarahan terbuka
Di sebuah musium luka

Bersatulah!

Putaran roda nasib siapa
Di tengah api dan asap begini

O ibu, di tangan siapa diputar roda!

<<<>

KE MUARA ASAL MULA
Sajak Nanang Suryadi

ke muara asal mula, melaut segala
duka cita suka cita menyatu dalam

ke muara asal mula, menemu segala
alir mimpi arus rindu dendam cintamu

ke muara asal mula, telan akumu
gelombang samudera demikian hempas

<<<>

SEPERTI KEMERDEKAAN
Sajak Nanang Suryadi

Seperti kemerdekaan yang selalu coba dieja
Pada kepul asap kemarahan terjungkal periuk nasi

O oleng nasib orang miskin
Ke pinggir pinggir jalanan

Seperti kemerdekaan yang lumer di tengah kecemasan
Teror bom sepanjang siang sepanjang malam

O oleng harap di tengah ketakutan
Ke tengah tengah diseruduk gajah bertarung

Seperti kemerdekaan di matamu kanak-kanak
Bening dan bersahaja memekik mengompol berceloteh riang

O kemerdekaan siapa dibaca pada
Jeritmu dirampas mainan!

<<<>

Sebagai kembara tak berpeta
Sajak Nanang Suryadi


Sebagai kembara tak berpeta membaca langit dan cuaca
Dimanakah tuju kau kira? Persinggahan sementara tiada kekal
Seteguk teh jamuan dan senyummu dan tangismu menyedu
Dunia demikian terasa menjadi milik penyendiri, desahmu

Lalu kita merangkai mimpi, sebagai naluri purba
Terlontar kita ke dunia tak berpeta hanya tanda pada langit, mungkin murka
Dan cuaca yang bikin cemas serta harap bergalau satu
Kapan kembali ke rumah abadi ke tempat kekasih abadi

Sebagai kembara tak berpeta belajar pada air mengalir alir
Sampai pada muara menyatu bersama debur dan asin gelombang
Bersama buih mengapung apung dihempas berberaian
Dalam sengat cahaya matahari! Dalam sengat cahaya matahari!

Demikianlah, hingga badai, yang mungkin datang suatu ketika
Mengombang ambing perahu hingga tak habis serapah: tak ada daratan!
Seperti kau pungut cerita dari riwayat bah banjir bandang
Melumat para pendosa hingga di dasar-dasar palung terdalam rahasia siksa

Tapi hidup kian merubahmu menjadi bebal: aku hendak kuasa!
Lalu kuasa menjadikanmu serupa kuda memercikan api ke udara
Menjadi kobaran tak habis-habisnya pertempuran tak habis-habisnnya
Negeri negeri menjadi bara menjadi puing sejauh tatap mata

Ah, kau kira, di mana akhirnya, sebelum segala menjadi tiada

<<<>

sebuah undangan dari syam asinar
Sajak Yono Wardito

undanganmu yang datang bersama angin sore
mengunjungiku dengan kalimat menganga

o aku
yang tak pernah mampu mengenalimu,
menyembur dari batas kaca,
di ruang tamuku, bayangan sendiri pecah oleh tarian kupu-kupu,
sudah tak banyak lagi kesepakatan yang kurangkai di gemetar jemari,
digeletar sarang laba, tangga dan pagar itu menjadi makhluk abolis yang
menyesakan telinga

kuku-kuku membayang sisa cahaya mentari :
cahaya
tak perlu pagar untuk menjaga kilaunya
tak perlu tangga untuk menatapnya

demikian dengan undangan itu
kujelajahi abu-abu ruang tamu dirumah mu
aroma kopi memburuku
cahaya mengendap
-- membias darahku
seperti gin tonic mengerat di bilik jantungku.

<<<>

rumput,lelaki bulan dan bayinya
Sajak Yono Wardito


: anggi isfahanius

setiap rumput mencari langkahmu
tak bisa lagi terus menerus menghimpit sepi
seperti senja yang pergi
biarka ia cari

-- dan datang lagi.

kau dengarkan saja suara
bayi mungil yang mengetuk bulan
menyimpan wajahnya sendiri
dalam gerak tetap

-- terbang ketanganmu.

<<<>

AKU MENULIS DI ATAS BATU
Sajak Yono Wardito

aku mulai ragu pada waktu yang terlambat mempertemukan kita
pada kilau menuju masa ditempuh membiru dengan huruf kelabu
tak ada yang perlu kutunggu tak ada yang harus kucari
yang satu membisu : kata kalbu diatas huruf kelabu
diatas angin
-- kucuran batu.

<<<>

YANG MENDERAI ADALAH
Sajak Indah IP

I
sepi mengabut.
sebagai jelma tak berhingga
melaut adamu
tak terganti

II
sepotong ingat.
tentang ranum hati
mungkin abadi
meski tak terperi

III
sketsa tuju.
labirin tiada tepi
aku masih setia
membujuk mimpi

indah ip
8 juli 01
9.20 am

<<<>

DEMIKIAN BADAI JADIKANMU DAN KU
Sajak Indah IP

maaf.aku padam.itu saja.

hingga pecah dada menghambur, heran aku
masih saja percaya bahwa
seruas kecil hatimu maknai getar yang sempat berjejalan
sebelum hujan redakan segala
hingga tiada

indah ip
8 agst 01/15.15 pm
9 agst 01/9.00 am

<<<>

PERCAKAPAN BENING DAN ANGIN
Sajak Indah IP

kau lihat mata manikam?
tak minat lagi kugenangi ia.
tubuhnya batu.
pun hatinya.

indah ip
13 agustus 01
11.45 pm

<<<>

PADAHAL KITA TAHU
Sajak Indah IP

belenggu belum lagi lepas.masih diikatnya perih di mata dalam reruntuh
bara.
tapi lihat.
ku dan mu abaikan waktu menguji
saat rajah tangan sendiri, menelusur garis yang pernah ditawarkan mimpi

indah ip
14 agustus 01
23.23 pm

<<<>

KEPADA YANG TERHORMAT SERABUT WAKTU
Sajak Indah IP

maukah
bantu aku melipat ragu
memilah ruang bagi selembar rindu
yang tak pernah tau
kutunggu

balas secepatnya, ya.

indah ip
31 juli 01
8.25 am

<<<>

BEGITUKAH LANGIT PAGI TAK BERSAHABAT
Sajak Indah IP


: tak pernah kau tau selimut malam simpan sesuatu ?

jadi sepucuk jingga rekah mengelabu di hatimu
o,sedemikian langit pagi tak bersahabat rupanya

wahai,
sudah kau coba menuju senja? sisi hari yang berbeda.
tinggalkan sebaris sepi yang merangkul pundakmu
katakan : cukup sampai sini! tak sudi aku kau rongrong terus. sana!cari
teman baru.
dan larilah tanpa toleh kembali.

pada masa kau jumpa malam
coba rebah diatas rumput atau sandarkan punggung dipepohon rindang
dan luruskan pandang
ikuti petunjukku:
di ufuk timur, cari kerlip benderang dengan jejarum cahya paling terang
kalau peka, kan tampak tetabur senyum berpendaran
,temukan namamu, sabit sebanyak kau ingin dan simpan dimata.
tak kan habis. kan selalu baru. karena setiap hari kukirim berjuta-juta
dari seberang.

maka jika esok pagi menghadang dengan debu yang kelabu
kau selalu siap pagari benak dengan senyum lewat pejam kelopak
bukan cuma itu, mereka juga bisa terangi hati kala lampu mati!
tak percaya? coba saja. bertahun-tahun sudah kupraktekkan.

demikian, kembara.
sekarang buang gundah dan muram itu.
masih ada embun, pelangi, dan banyak lagi tuk ditemani
tak usah hirau pagi yang ketus.
sudah ya, sampai jumpa lagi.

ohya!! kapan saja pulih hatimu, kau juga boleh titip senyum pada kejora.

jangan lupa tulis namaku dan beri tanda "kilat khusus!" atau
.....sms aku tuk beri tahu, ya! kusediakan ruang untuknya.

indah ip
12 agustus 01
11.05 am

<<<>

MENEPI
Sajak Indah IP

perahu kecil lelap di tepi buai
sesekali sentak oleh ombak terburai

tidurlah sayang, tidur.
dengar canon in d mendebur
tiap denting adalah waktu yang tertelan
redakan lekas, redakan.

perahu kecil lelap di tepi buai
desir tak berjawab masih menganak sungai

indah ip
18 agustus 01
8.58 am

<<<>

Kalau kau lupakan aku
Sajak Pablo Neruda

Aku mau kau tahu
satu hal.

Kau tahu bagaimana rasanya:
kalau aku memandang
bulan kristal, di ranting merah
musim gugur yang bergerak lambat di jendelaku,
kalau aku sentuh
di dekat perapian
abu lembut
atau tubuh keriput kayu,
semuanya membawaku padamu,
seolah semua yang ada,
aroma, cahaya, logam,
adalah kapal kapal kecil
yang berlayar
menuju pulau pulaumu yang menungguku itu.

Jadi, sekarang,
kalau sedikit demi sedikit kau berhenti mencintaiku
aku akan berhenti mencintaimu sedikit demi sedikit.

Kalau tiba tiba
kau melupakanku
jangan cari aku,
karena aku pasti sudah akan melupakanmu.

Kalau kau pikir panjang dan gila
angin panji panji
yang berlalu dalam hidupku,
dan kau putuskan
untuk meninggalkanku di pantai
hati di mana akarku berada,
ingatlah
hari itu juga,
jam itu juga,
aku akan melepaskan tanganku
dan akarku akan berlayar
mencari negeri baru.

Tapi
kalau setiap hari,
setiap jam,
kau rasa kau memang ditakdirkan untukku
dengan kelembutan yang tak terkira,
kalau setiap hari sebuah bunga
naik ke bibirmu mencariku,
ah sayangku, kekasihku,
dalam diriku semua api itu akan terbalas,
dalam diriku tak ada yang akan padam atau terlupakan,
cintaku hidup dari cintamu, kekasihku,
dan selama kau hidup cintaku akan terus dalam
rangkulanmu
tanpa meninggalkanku.

-terjemahan Saut Situmorang

<<<>

puisi paling sedih
Sajak Pablo Neruda

aku bisa saja menulis puisi paling sedih malam ini.

misalnya, menulis: “malam penuh bintang,
dan bintang bintang itu, biru, menggigil di kejauhan.”

angin malam berkelit di langit sambil bernyanyi.

aku bisa saja menulis puisi paling sedih malam ini.
aku pernah mencintainya, dan kadang-kadang dia pernah
mencintaiku juga.

di malam-malam seperti ini, aku rangkul dia dalam
pelukan.
aku ciumi dia berkali kali di bawah langit tak
berbatas.

dia pernah mencintaiku, kadang-kadang aku pun
mencintainya.
bagaimana mungkin aku tak akan mencintai matanya yang
besar dan tenang itu?

aku bisa saja menulis puisi paling sedih malam ini.
kerna aku tak memilikinya. kerna aku kehilangan dia.

kerna malam begitu mencekam, begitu mencekam tanpa
dirinya.
dan puisiku masuk dalam jiwa seperti embun pada
rumputan.

tak apa kalau cintaku tak bisa di sini menahannya.
malam penuh bintang dan tak ada di sini dia.

begitulah. di kejauhan, seseorang menyanyi. di
kejauhan.
jiwaku mati kini tanpa dia.

kerna ingin menghadirkannya di sini, mataku
mencarinya.
hatiku mencarinya dan tak ada di sini dia.

malam yang itu itu juga, yang membuat putih pohonan
yang itu itu juga.
kami, yang dulu satu, tak lagi satu kini.

aku tak lagi mencintainya, benar, tapi betapa cintanya
aku dulu padanya.
suaraku menggapai angin hanya untuk menyentuh
telinganya.

milik orang lain. dia akan jadi milik orang lain.
seperti dia dulu
milik ciuman ciumanku.
suaranya, tubuhnya yang kecil. matanya yang memandang
jauh.

aku tak lagi mencintainya, benar, tapi mungkin aku
mencintainya.
cinta begitu pendek dan memori begitu singkat.

kerna di malam malam seperti ini dulu aku rangkul dia
dalam pelukan,
jiwaku mati kini tanpa dirinya.

mungkin ini luka terakhir yang dibuatnya,
dan ini puisi terakhir yang kutulis untuknya.

-terjemahan Saut Situmorang

<<<>

Burung Betina
Sajak Pablo Neruda


Dengan burung terestrialku yang kecil,
kendi tanahku yang sederhana,
aku mulai menyanyikan
hujan gitar:
musim gugur tiba
seperti seikat kayu api,
melepaskan aroma harum
yang melayang ke gunung gunung,
dan seperti buah buah anggur ciuman ciumanku
menyatu dengan buah buah anggurnya.

Ini membuktikan kalau senja
menyimpan rasa manis
seperti proses amber
atau susunan violet.

Mari terbang, penumpang,
mari terbang dengan arang,
yang panas atau dingin,
dengan kegelapan tak beraturan
dari yang tak dikenal dan yang meregang

Mari masuki abunya,
mari bergerak dengan asapnya,
marilah hidup dengan apinya.

Di tengah musim gugur
kita akan meletakkan meja
di sisi bukit yang berumput,
terbang di atas Chillan
dengan gitarmu di sayapmu.

-terjemahan Saut Situmorang

<<<>

penguin magellanik
Sajak Pablo Neruda

bukan pelawak atau bocah kecil atau hitam
atau putih tapi vertikal
dan keluguan yang bertanya tanya
dalam baju malam dan salju:
sang ibu tersenyum pada sang pelaut,
sang nelayan pada sang astronot,
tapi sang bocah bocah tidak tersenyum
waktu dia melihat pada sang bocah burung,
dan dari samudera yang tak beraturan itu
penumpang yang bersih dan rapi itu
muncul dalam duka salju.
aku tak salah lagi adalah bocah burung itu
di sana di gugusan kepulauan yang dingin itu
waktu dia menatapku dengan matanya itu,
dengan mata lautnya yang tua itu:
dia tak punya tangan ataupun sayap
kecuali dayung dayung kecil keras
di kedua sisinya:
dia setua garam;
setua air yang bergerak,
dan dia menatapku dari usianya itu:
sejak itu kutahu aku tak ada;
aku seekor cacing di pasir.
alasan bagi rasa hormatku itu
tertinggal di dalam pasir:
burung religius itu
tidak perlu terbang,
tidak perlu bernyanyi,
dan melalui bentuknya kelihatan
jiwa liarnya berdarah garam:
seolah urat nadi laut yang getir
pecah.

penguin, pejalan statis,
pendeta sejati dari yang dingin
aku hormati garam vertikalmu
dan iri pada percaya dirimu.

-terjemahan Saut Situmorang

<<<>

malam ambruk di kepalaku
Sajak Saut Situmorang

kata kata bagai asap knalpot truk tua
mencekikku di angin yang berhembus dari
jari jari manisMu...

asap rokok terhuyung menjilati jarak langit
seperti sebuah tanda tanya dipermainkan ombak
darahku yang berkejaran dengan sepasang jarum jam
berdetak di dada...

o wajah yang tak henti membawa kemarau dan musim semi
nama yang menikam dan menyembuhkan
hilang timbul dalam percintaan hari dan malam
mengertikah Kau makna butir butir kristal hujan
yang jatuh perlahan
menitik
dari daun di luar kamarMu?

bayangkan gelap malam ambruk di kepalaku!

denpasar, 19 agustus 2001
21:40

saut situmorang

<<<>

Hidup
Sajak Luh Katrin


berhati-hatilah kau, penyair
sajakmu bukan benda bukan mati
yang tinggal kausimpan di lemari buku
`tuk dikenang dibanggakan
pada anak cucu kelak

sajakmu hidup sehidup-hidupnya
lincah-liar berkeliaran
menyelinap ke sela-sela ke lorong-lorong
menyebar ke timur ke barat ke gunung ke laut
ke atas ke bawah ke dasar jiwa
mencuri hati orang
melukai hati orang
mengharukan hati orang
mencumbu hati orang
menyetubuhi hati orang
memabukkan hati orang
membuat orang menangis tertawa menunduk menyerang

bahkan orang yang sama sekali tak kaukenal

berhati-hatilah kau, penyair
bisa-bisa hati kekasihmu pun ia curi
dan kau tinggal bertangan kosong berhati kosong


Kerobokan, 16 Agustus 2001

<<<>

Jatuh
Sajak Luh Katrin

serasa aku jatuh
ke dalam sumur tak berdasar
laju makin melaju
cacing tanah sudah kulewati
tanah dan batu berlapis-lapis
di manakah ujungnya di mana

di titik tengah bola bumi
aku akan hangus terbakar

lenyaplah aku dari muka bumi

Kerobokan, 7 Agustus 2001

<<<>

kata-kata kasar
Sajak Luh Katrin

kau banting tubuhku
kaucampakkan ke dasar lautan
kau cabik jantungku
luka nyilu panas perih
kau tampar pipiku
pedih membakar kulit
menjelma air mata kebencian

tak kaurasakan itu?
tak kaurasakan?

Kerobokan, 6 Agustus 2001

<<<>

Mata-mata
Sajak Luh Katrin

Waspadalah, hai bangsa Indonesia!

ada kudengar
jauh di sana, di negri belanda
sedang disiapkan pasukan cyborg canggih
akan membangun kembali
jajahan Hindia Belanda

ada pula kudengar
bisikan rahasia
cyborg itu sungguh unggul
hanya satu pantangannya

bila rayuan sajak
tertangkap oleh telinganya
ia akan meleleh mencair
runtuh ke tanah hancur lebur
lalu menjelma kupu-kupu putih
mengepakkan sayap merindukan bulan

wahai tentra negri tercinta
simpanlah senjata lupakan meriam
isilah otak dan jiwa
dengan sajak teguh dan indah

Hidup Indonesia!

Kerobokan, 7 Agustus 2001

<<<>

Tugas para ahli
Sajak Luh Katrin

di saat aku mati nanti
maukah kau sekalian
menerima sajakku dari alam sana?

akan kutembangkan bagimu
nyanyian bidadari
akan kutularkan padamu
panasnya api neraka
akan kunyalakan bagimu
terangnya cahaya ilahi
akan kusampaikan pula
bisikan iblis dan setan

wahai para ahli computer
usahakanlah
bukankah semua pelosok sudah kausatukan
sambungkan pula ke alam sana

andai gagal usahamu
saat matiku nanti
ya Tuhan, hapus-lenyapkan sajalah aku
tak ingin kusaksikan
nyanyian bidadari dan api neraka
cahaya ilahi dan bisikan iblis

Kerobokan, 7 Agustus 2001

<<<>

Aku dikeroyok sajak
Sajak Luh Katrin

dari segala penjuru
sajakmu datang mengepung
menyerang melahap tubuhku
buas menggigit mengunyah menelan
menyedot otak mencengkeram jantung

teruskanlah teruskan
sampai tak setetes darah pun tersisa

ringan bebas-lepas
aku ingin terbang
membubung ke langit biru

Kerobokan, 6 Agustus 2001

<<<>

dari mana munculnya kata
Sajak Luh Katrin

dari mana munculnya kata

dari mana muncul gelisah


bagaikan air
mamancar liar dari mata bumi
mengalir menjelma sungai
tak terbendung lagi

Kerobokan, 2 Agustus 2001